10/15/2017

Metode Pembelajaran Fisika

Metode Pembelajaran Fisika - Fisika merupakan salah satu pelajaran dalam cabang ilmu pengetahuan alam. Pelajaran yang satu ini ternyata banyak ditakuti oleh para peserta didik karena kekurangpahaman yang mereka miliki tentang pelajaran fisika ini. Karena hal tersebutlah maka para tenaga pendidik harus cermat saat memilih metode pembelajaran yang baik dalam menyampaikan materi pembelajaran fisika kepada peserta didik yang dimilikinya. \

Terdapat beberapa metode yang dapat dipergunakan oleh tenaga pendidik dalam memberikan pembelajaran fisika. Di antaranya metode pembelajaran fisika yang saya maksudkan tersebut antara lain adalah sebagai berikut.

  1. Metode Pembelajaran fisika ceramah. Metode ini merupakan metode konvensional yang lazim digunakan yakni sebuah metode penyampaian materi pembelajaran fisika secara langsung dari tenaga pendidik kepada para peserta didiknya. Umumnya metode pembelajaran ini digunakan untuk menyiasati ketiadaan media pembelajaran yang menunjang, sehingga hal tersebut membuat tenaga pendidik efektif ketika menyampaikan materi secara langsung atau lisan. Metode pembelajaran ini juga tidak memerlukan biaya yang banyak dan memiliki waktu dan tempat yang lebih fleksibel.
  2. Metode pembelajaran fisika diskusi. Metode pembelajaran  ini dengan cara membentuk kelompok-kelompok kecil di sebuah kelas. Umumnya metode pembelajaran ini lebih menitikberatkan pada problem solving atau pemecahan masalah. Setiap anggota kelompok akan dituntut untuk menyumbangkan buah pemikirannya terkait dengan permasalahan yang diberikan oleh tenaga pendidik sehingga dengannya juga sangat baik untuk mengembangkan kedekatan personal di antara para peserta didik.
  3. Metode pembelajaran demonstrasi fisika. Pembelajaran fisika sering kali berkaitan dengan praktek, karena hal tersebutlah maka pembelajaran demonstrasi atau seorang tenaga pendidik  memberikan peragaan terhadap materi yang disampaikan. 
  4. Metode resitasi fisika. Metode ini sangat baik untuk meningkatkan pemahaman yang dimiliki oleh para peserta didik terhadap materi pembelajaran fisika. Para peserta didik diarahkan untuk membuat resume atau rangkuman menggunakan bahasa mereka sendiri terkait dengan pembelajaran fisika.
  5. Metode percobaan fisika. Praktikum fisika merupakan hal yang teramat penting bagi para peserta didik untuk dapat lebih memahami pelajaran fisika. Karena hal tersebutlah maka tak salah jika banyak yang berkata bahwa metode pembelajaran fisika ini merupakan metode pembelajaran yang efektif.

Itu tadi beberapa ulasan yang dapat saya sajikan kepada anda sekalian. Semoga dengannya dapat memberikan banyak manfaatnya.

10/13/2016

Metode Pembelajaran Kooperatif

Saat ini banyak sekali metode yang dapat digunakan oleh seorang tenaga pendidik untuk memberikan pendidikan yang berkualitas kepada para peserta didiknya salah satunya adalah dengan memberikan materi pembelajaran kepada para peserta didik menggunakan metode pembelajaran yang sesuai yang disukai oleh para peserta didik. Nah untuk itulah maka pada ulasan berikut ini saya sengaja memberikan sebuah topik bahasan seputar metode pembelajaran yang efektif yang sesuai untuk anda terapkan pada peserta didik. Dan metode pembelajaran tersebut bernama metode pembelajaran kooperatif. Apakah metode pembelajaran kooperatif itu dan apakah metode pembelajaran ini dapat mewujudkan pembelajaran yang efektif? Tak usah berlama-lama lagi, bagi anda yang ingin mengetahui banyak informasi penting tentangnya, anda dapat langsung menemukannya pada ulasan berikut ini.

Metode pembelajaran kooperatif merupakan sebuah metode pembelajaran yang baik untuk diterapkan kepada para peserta didik dalam berbagai situasi. Pada dasarnya pembelajaran kooperatif ini menekankan kepada para peserta didik untuk melakukan kerjasama dalam memecahkan masalah-masalah terkait dengan pembelajaran yang disampaikan oleh tenaga pendidiknya melalui diskusi dengan peserta didik yang lain melalui kelompok. Kelebihan utama dari metode pembelajaran ini adalah dapat mengakomodir para peserta didik dari berbagai macam latar belakang yang berbeda misalkan dari tingkatan prestasi akademik yang berbeda, latar keluarga yang berbeda dan lain-lain sehingga dengannya seain belajar mengenai materi yang ada pada saat pembelajaran mereka juga secara tidak langsung belajar tentang bagaimana berinteraksi sosial.

Dalam metode pembelajaran kooperatif ini ada kalanya seorang tenaga pendidik menyampaikan informasi secara langsung kepada para peserta didiknya. Namun ada kalanya juga mereka membagi para peserta didik ke dalam beberapa kelompok yang berbeda yang dengannya para tenaga pendidik dapat memberikan sebuah permasalahan yang hendak didiskusikan dalam kelompok tersebut.  Di sini seorang tenaga pendidik berperan utama untuk mengondisikan bagaimana jalannya diskusi kelompok tersebut dapat berlangsung dengan ideal baik dari komposisi peserta didik dalam sebuah kelompok yang diupayakan memiliki latar yang berbeda maupun saat membimbing jalannya diskusi kelompok.

Dengan belajar dalam kelompok tersebut, para peserta didik dapat secara aktif menyampaikan gagasan-gagasan yang dimilikinya dengan lebih leluasa. Dan demikianlah beberapa ulasan yang dapat saya berikan, semoga memberi manfaat bagi anda.

10/02/2016

Konsep Media Pembelajaran

Di dalam konsep media pembelajaran, terdapat metodologi yang mendasari pembelajaran. Dan metodelogi tersebut mempunyai dua aspek terpenting, yaitu yang pertama media pembelajaran yang berfungsi sebagai alat di dalam proses belajar mengajar, dan yang kedua metode pembelajaran. Dalam proses mengajar, selalu ada penilaian yang berfungsi sebagai alat pengukur kemampuan siswa dalam menerima pembelajaran. Untuk mencapai hasil belajar yang maksimal, dibutuhkan beberapa media pendukung lain seperti teknologi. Karena media pendukung proses belajar teknologi tersebut, sangat berperan sekali terhadap dunia pendidikan. Misalnya ketika sekolah menyediakan computer untuk proses belajar, dari computer tersebut akan menjadi pembelajaran yang sangat kreatif dan dapat menjadikan siswa lebih cerdas dalam dunia teknologi. Selain itu, computer juga menjadi kebutuhan penting bagi pihak sekolah untuk mengatur data-data atau informasi tentang siswa dan sekolah.

Ketika teknologi menjadi alat untuk mengembangkan pembelajaran, maka bermunculan media pembelajaran yang seharusnya diterapkan oleh guru di dalam kelas. Namun, masih banyak guru yang menggunakan metode lama untuk proses belajar. Sehingga murid-murid merasa jenuh ketika proses belajar dimulai. Sebagai contoh konsep media pembelajaran yang seharusnya digunakan adalah metode jigsaw. Dalam metode  tersebut, siswa harus berperan aktif dalam belajar di kelas. Jadi, sang murid membuat beberapa kelompok, biasanya terdiri satu kelompok terdapat lima orang. Kemudian, dalam kelompok tersebut harus menjelaskan tentang materi yang diberikan oleh guru.

Jika dikembangkan dengan baik, maka proses pembelajaran akan menyenangkan bagi siswa maupun guru, karena membuat anak semakin aktif dan berani untuk tampil di depan kelas. Rasa minder yang dirasakan oleh siswa biasanya karena kurang terbiasa dalam menunjukkan kemampuannya di depan kelas. Itu akibat guru yang hanya bercerita di depan kelas dan akhirnya berdampak buruk bagi perkembangan belajar anak. Disisi lain, jika murid-murid merasa nyaman dalam belajar, maka kemampuan menyimpan materi pun akan lebih besar.

Konsep media pembelajaran yang digunakan sekolah saat ini sudah ada yang memakai media dan metode yang disarankan oleh dinas pendidikan. Dan guru yang berperan aktif juga sudah banyak digencarkan penerapannya. Sudah semakin sedikit pembelajaran yang menggunakan metode lama, dan jika hal tersebut diterapkan, maka akan semakin baik pendidikan yang diajarkan.

Metode Pembelajaran Inquiry

Metode pembelajaran inquiry biasanya digunakan dalam pendidikan sains, dan hingga saat ini masih tetap dipakai. Karena dalam dunia sains, difokuskan untuk lebih aktif alam berbagai permasalahan , dan juga harus lebih rasional dalam mencari tau hal-hal apa saja yang menjadi penemuan. Rasa ingin tahu tersebut berguna agar keterampilan siswa dapat lebih diasah. Siswa yang aktif akan mengalami perkembangan otak yang lebih baik dibandingkan dengan siswa yang pasif.

Metode pembelajaran inquiry membuat para murid mempunyai aktifitas yang bisa mengembangkan diri menjadi lebih baik lagi. Karena rasa ingin tahu yang belum terpecahkan, maka siswa akan merasa ingin lebih mengetahui lagi bagaimana menyelesaikan suatu permasalahan. Dengan penerapan inquiry di dalam pelajaran, maka pemahaman siswa akan menjadi lebih optimal lagi ketika menerima suatu materi. Pelajaran sains bukan hanya soal teori saja, namun karya yang bersifat ilmiah akan menjadi aktivitas setiap hari ketika sedang mempelajari materi dari sains. Kemudian, beberapa praktek lapangan seperti melihat suatu tanaman atau mengamati

Sikap siswa yang lebih senang dalam bermain, dijadikan lebih peka terhadap suatu hal yang menjadi dasar suatu proses belajar. Agar lebih memahami dengan teliti, sang guru harus lebih jeli ketika mengajarkan sesuatu, terutama dalam model yang digunakan. Karena pelajaran sains bersifat realistis dan membutuhkan konsentrasi yang tinggi, harus ada cara-cara pengajaran mungkin bisa mengajarkan suatu materi dengan cara belajar berbeda dari biasanya, mungkin dengan membuat kelompok belajar lalu duduk di lantai dan kelompok membentuk lingkaran. Jika hal tersebut tidak dilakukan, pelajaran tersebut mungkin hanya dapat bertahan lama di otak siswa dalam jangka waktu satu minggu, dan selebihnya para siswa akan lupa dengan apa materinya.

Selain itu, focus yang tinggi diberikan dengan cara membuat siswa mengenal suatu jenis hal. Kemudian, buat siswa tersebut bertanya mengapa hal itu bisa terjadi. Dengan begitu otak siswa akan aktif dalam menerima masukan secara realistis dan akan lama daya ingatnya.

Metode pembelajaran inquiry bertujuan memberikan masukan pembelajaran yang lebih aktif, dengan menekankan cara berpikir yang ilmiah dan nyata.

8/28/2016

Strategi Proses Belajar Mengajar

Strategi Proses Belajar Mengajar
Awal mulanya istilah strategi dipakai di dunia militer dan mempunyai arti sebagai penggunaan seluruh kekuatan untuk memenangkan sebuah peperangan. Untuk mengatur suatu strategi maka seseorang akan lebih dahulu menimbang kekuatan pasukan miliknya baik dari jumlah maupun kualitasnya. Jika semua sudah diketahui barulah dia menyusun sebuah tindakan yang harus dikerjakan mengenai siasat perang dan tehniknya serta waktu yang tepat untuk menyerang.

Dari hal tersebut bisa disimpulkan bahwa strategi dipakai untuk mendapatkan kesuksesan dan keberhasilan untuk mencapai tujuan. Di dunia pendidikan, strategi mempunyai arti sebagai perencanaan yang berisis mengenai serangkaian kegiatan yang dibuat untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Strategi dipakai dalam banyak konteks belajar mengajar. Strategi juga mempunyai arti sebagai pola umum aktivitas guru dan peserta didik dalam menunjukkan kegiatan belajar mengajar.

Strategi belajar mengajar menunjukkan karakteristik tentang rentetan perbuatan antara guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran. Strategi belajar mengajar merupakan perencanaan yang berisi mengenai rangkaian aktivitas yang dibuat untuk mencapai suatu tujuan yang sudah ditentukan. Strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dilakukan oleh guru dan murid supaya tujuan pembelajaran bisa dilakukan secara efektif dan efisien.

Strategi mengajar adalah sebuah cara yang dipakai guru dalam menjalankan proses belajar mengajar agar bisa mempengaruhi peserta didik untuk mencapai tujuan pengajaran dengan lebih efisien dan efektif. Jadi strategi belajar mengajar ada pada proses pelaksanaan yang menjadi tindakan nyata guru pada saat mengajar berdasarkan pada aturan dalam pengajaran. Strategi pembelajaran harus mengandung penjelasan mengenai prosedur dan teknik yang dipakai pada proses pembelajaran.

Ada berbagai metode atau teknik tentang strategi pembelajaran yang bisa dipakai. Teknik tersebut antara lain dengan diskusi, kerja kelompok, penemuan dan simulasi. Selain itu para pengajar juga bisa memakai teknik eksperimen, demonstrasi, karya wisata, teknik penyajian lapangan, sosiodrama, teknik penyajian kasus, teknik penyajian secara sistem regu, latihan, dialog, ceramah, dan pemberian tugas. Berbagai metode sebagai bagian strategi pembelajaran dimaksudkan untuk memperoleh hasil belajar seperti yang diharapkan.

11/02/2015

Pembelajaran Multimedia Berbasis Keterampilan

Pembelajaran Multimedia dari waktu demi waktu manusia akan bertambah ilmunya dari zaman pra-aksara sampai sekarang. Dan ilmu teknologi juga makin berkembang, dulu pada zaman purba manusia mulia belajar berburu, bercocok tanam, membuat grabah ataupun membuat senjata untuk berburu dan lain-lain. Dan ilmu tersebut telah berkembang dan masih di gunakan sampai sekarang. Dan pada era abad ke-20 mulai berkembang ilmu yang sangat menguntungkan manusia serta lahirnya komputer. Dan komputer telah berevolusi mulai dari ukuran atau fungsinya. Dan ilmu tersebut pada zaman sekarang sering di sebut KKPI,Teknologi Informasi dan Komunikasi, atau sering di juga multimedia. Dan seputar dekade ini sudah berdiri sekolah yang mengajarkan ilmu tentang komputer.
   
Pembelajaran multimedia  akan sangat menguntungkan manusia jika ilmu tersebut di gunakan secara positif. Serta ilmu itu juga dapat dikembangkan  tetapi kita dapat melihat dari sejarah ilmu yang maju hanya akan mendapatkan kesengsaraan karena teknologi yang sudah maju akan digunakan untuk menyerang peradaban yang kurang maju.
   
Contoh ilmu multi media yakni perbaikan perangkat keras, mengenal bahasa pemrograman, membuat software, serta yang sudah ngetren yakni ilmu untuk merakit robot, dan ilmu lainnya. Bukan itu saja, ada pula jenis pembelajaran yang memahami tentang pencitraan pada foto, lalu bagaimana langkah-langkah dari pembuatan film, dan semua itu akan dipelajari dari multimedia ini.

Dunia ini sudah banyak kemajuan tentang ilmu pengetahuannya tetapi dari efek itu malah terjadi problem sosial yaitu terjadinya sikap acuh tak acuh serta sikap manusia yang menggantungkan dirinya pada teknologi. Tentu itu adalah sikap kurang sehat. Dan semua ini adalah pilihan Anda. Sekian apa yang dapat penulis sampaikan pada kesempatan ini, semoga yang sedikit ini menjadi manfaat bagi Anda sekalian tentunya, semoga Anda dapat memanfaatkan segala kemajuan zaman pada nilai yang positif sehingga akan semakin mudah Anda menjalani kehidupan yang baik di muka bumi ini.

Ilmu pembelajaran multimedia tidak itu saja, masih banyak contoh lainnya. Semakin banyak Anda miliki ilmu maka akan semakin bermanfaat hidup Anda sekalian.

10/10/2015

Keterampilan Dasar Mengajar

Keterampilan dasar mengajar adalah suatu kemampuan atau pun keterampilan khusus yang wajib dimiliki oleh seorang pendidik, seperti guru dan dosen serta instruktur atau pun widyaiswara. Hal tersebut bertujuan agar pendidik mampu melaksanakan tugasnya dengan cara yang efektif, efisien serta profesional ketika memberikan materi pelajaran kepada anak didik (aktivitas mengajar). Jadi, keterampilan dasar dalam mengajar yang berkenaan dengan beberapa kemampuan atau keterampilan yang sifatnya mendasar dan melekat harus dimiliki atau diaktualisasikan oleh setiap pendidik dalam melakasanakan tugasnya.

Berikut adalah jenis-jenis keterampilan pendidik :
1. Keterampilan bertanya
Keterampilan bertanya adalah bagian yang tidak dapat di pisahkan dalam rangka untuk meningkatkan kualitas dari proses dan hasil dalam kegiatan pembelajaran, keterampilan ini pun sekaligus bagian dari suatu keberhasilan dalam pengelolaan instruksional atau pun dalam pengelolaan kelas. Dengan adanya keterampilan bertanya guru dapat mendeteksi dan menemukan hambatan pada proses berpikir di kalangan para siswa dan juga sekaligus dapat memperbaiki dan meningkatkan kualitas dari proses belajar di kalangan para siswa.

2. Keterampilan dalam penyajian suatu penjelasan
Keterampilan ini menuntut para pendidik ini untuk menggunakan bahasa yang mudah di mengerti dan hendaknya memberikan contoh atau ilustrasi, agar para siswa jelas menangkap dari maksud yang di sampaikan oleh para pendidik tersebut.

3. Keterampilan dalam pemberian tekanan
Maksud dari keterampilan ini adalah para pendidik harus memberikan pengarahan kepada para siswa untuk terpusat kepada masalah pokok dan mengurangi untuk memberikan informasi-informasi yang kurang penting.

4. Keterampilan dalam penggunaan balikan
Keterampilan ini para pendidik harus memberikan kesempatan kepada para siswa untuk menunjukkan keraguan, pamahaman, atau ketidak mengertiannya ketika penjelasan tersebut yang di berikan. Berdasarkan keterampilan balikan tersebut memang sangat di perlukan untuk melakukan penyesuaian dalam penyajiannya.

5. Keterampilan dalam memulai dan mengakhiri pembelajaran
Keterampilan dalam memulai pelajaran yaitu para pendidik harus bisa menciptakan prokondusi bagi para siswa agar mental atau pun perhatian para siswa terpusat atau tertuju kepada apa yang akan para pendidik itu sampaikan. Sedangkan mengakhiri pelajaran yaitu para pendidik harus memberikan suasana yang menyenangkan sehingga apa yang telah di jelaskan tadi bisa di tangkap oleh para siswa tersebut.

8/02/2015

Ciri-ciri Media Pembelajaran Menurut Gerlach dan Ely

Berikut ini kami akan memaparkan pemikiran Gerlach dan Ely (1971) yang masih relevan hingga saat ini, yaitu tentang 3 ciri penting media pembelajaran dalam dunia pendidikan. Gerlach dan Ely telah mengungkapkan betapa media pembelajaran sangat dibutuhkan dalam kegiatan belajar mengajar. Pada tahun 1971, mereka telah mengemukakan bahwa media pembelajaran dalam dunia pendidikan dapat berperan penting. Media pembelajaran dapat menggantikan peran guru yang  tidak dapat guru lakukan. Media pembelajaran memiliki paling  tidak memiliki 3 ciri penting, yaitu: (1) ciri fiksatif; (2) ciri manipulatif; dan (3) ciri distributif. Berikut kita bahas secara lebih mendetail satu per satu.
ciri-ciri media pembelajaran
ciri-ciri media pembelajaran

Ciri Fiksatif (Fixative Property)

Media pembelajaran memiliki kemampuan untuk merekam, menyimpan, melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa atau objek. Banyak kejadian-kejadian penting atau objek-objek yang harus dipelajari oleh siswa. Kejadian-kejadian itu tentu saja sering kali sudah berlalu, misalnya saja peristiwa-peristiwa bersejarah yang terjadi di suatu negara. Siswa dapat mepelajari bagaimana peristiwa atau kejadian-kejadian itu melalui rekaman video dokumentasi, dan foto-foto. Objek-objek biotik ataupun abiotik yang unik dan harus dipelajari oleh siswa dapat dihadirkan dengan gampang diruang kelas dengan rekaman video atau foto. Peristiwa dan objek-objek pembelajaran dengan demikian dapat dihadirkan setiap waktu jika dikehendaki.

Ciri Manipulatif (Manipulative Property)

Kejadian yang berlangsung berhari-hari bahkan bertahun-tahun dapat disajikan dalam waktu beberapa menit saja. Banyak peristiwa atau objek yang sulit diamati secara langsung dengan mudah diamati melalui media pembelajaran berupa rekaman video dan foto. Bayangkan, siswa dapat mempelajari bagaimana proses pertumbuhan dan perkembangan embrio di dalam kandungan ibu hanya dalam waktu 10 sampai 15 menit. Proses ini aslinya berlangsung selama 9 bulan di dalam tubuh ibu. Dengan bantuan teknologi khusus dan proses perekaman yang kemudian dilakukan manipulasi, waktu dapat dipersingkat dengan mempercepat dengan hanya menampilkan kejadian-kejadian penting saja. Selain itu, bahkan proses dapat diputar balik dan diulang-ulang. Kejadian yang berlangsung cepat juga dapat diperlambat. Teknologi telah menjadikan media pembelajaran mempunyai peranan yang amat penting untuk memberikan pemahaman akan suatu peristiwa atau objek bagi siswa.

Ciri Distributif (Distributive Property)

Dengan penggunaan media pembelajaran, kejadian atau objek pada suatu tempat dapat disebarkan ke tempat lain dengan mudahnya. Rekaman film dan foto, pada era digital sekarang dengan sangat mudah didistribusikan tanpa terkendala ruang dan waktu. Kejadian di daerah-daerah yang sulit atau bahkan tidak mungkin dikunjungi oleh siswa dapat dihadirkan di ruang kelas mereka tanpa memerlukan banyak usaha keras. Penggunaan internet atau perangkat penyimpan data seperti flashdisk, CD, dan sebagainya memudahkan bahan-bahan pembelajaran tersebut ddistribusikan. Konsistensi informasi yang terdapat didalamnya akan selalu terjaga sebagaimana aslinya (ajeg).

Demikian artikel tentang 3 Ciri Media Pembelajaran menurut Gerlach dan Ely (1971). Semoga memberi manfaat bagi anda.

5/25/2015

Pengajaran Strategi Belajar (Learning Strategies)

Pengajaran Strategi Belajar (Learning Strategies)
Pengajaran Strategi Belajar (Learning Strategies)

Muhammad Faiq Dzaki

Menurut Claire Weinstein dan Richard Meyer bahwa pengajaran yang baik meliputi mengajarkan siswa bagaimana belajar, bagaimana mengingat, bagaimana berpikir, dan bagaimana memotivasi diri mereka sendiri.(Nur, 2000:5). Jadi mengajarkan siswa bagaimana belajar merupakan suatu tujuan pendidikan yang sangat penting dan menjadi tujuan utama.

Selanjutnya dikatakan bahwa pentingnya mengajarkan siswa bagaimana belajar atau disebut pengajaran strategi berlandaskan pada dalil bahwa keberhasilan siswa sebagian besar bergantung pada kemahiran untuk belajar secara mandiri dan memonitor belajar mereka sendiri, sehingga strategi belajar mutlak diajarkan kepada siswa.

Strategi belajar mengacu pada prilaku dan proses berpikir yang digunakan oleh siswa yang mempengaruhi apa yang dipelajari termasuk proses memori dan metakognitif.(Nur, 2000:7).Selanjutnya dikatakan bahwa strategi-strategi belajar adalah operator-operator kognitif meliputi dan di atas proses-proses yang secara langsung terlibat dalam menyelesaikan suatu tugas [belajar].

Tujuan utama dari pengajaran strategi adalah mengajarkan siswa untuk belajar atas kemauan dan kemampuan diri sendiri atau pebelajar mandiri (self-regulated learner) yang mengacu pada pebelajar yang dapat melakukan empat hal penting, yaitu: (a) secara cermat mendiagnosa suatu situasi pembelajaran tertentu, (b) memilih suatu strategi belajar tertentu untuk menyelesaikan masalah belajar tertentu yang dihadapi, (c) memonitor keefektivan strategi yang digunakan, dan (d) termotivasi untuk terlibat dalam situasi belajar sampai masalah terselesaikan. (Nur, 2000:9)

Pustaka:
Nur, M. 2000. Strategi-Strategi Belajar. Surabaya : Universitas Negeri Surabaya, University Press.

5/12/2015

Macam-Macam Strategi Pembelajaran

Macam-Macam Strategi Pembelajaran

Macam- Macam Strategi Pembelajaran

Ada berbagai strategi pembelajaran yang dapat digunakan guru untuk meningkatkan pembelajaran siswa. Di bawah ini disebutkan beberapa cara untuk menjadikan pembelajaran guru menjadi lebih menarik.

Pembelajaran Aktif (Active Learning)

Pembelajaran Aktif - Pembelajaran Aktif adalah segala sesuatu yang dilakukan siswa di kelas selain hanya pasif mendengarkan ceramah seorang guru. Penelitian menunjukkan bahwa belajar aktif meningkatkan pemahaman siswa dan penyimpanan informasi dan sangat efektif dalam mengembangkan keterampilan kognitif yang lebih tinggi, seperti pemecahan masalah dan berpikir kritis.

Clicker

Clicker - Clicker memungkinkan guru untuk secara cepat mengumpulkan dan meringkas tanggapan siswa untuk pertanyaan pilihan ganda.

Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)

Pembelajaran Kooperatif / Cooperative Learning - Pembelajaran kooperatif dan kolaboratif merupakan pendekatan pembelajaran di mana siswa bekerja sama dalam kelompok kecil untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran harus secara hati-hati direncanakan dan dilaksanakan, dan dalam pelaksanaannya tersebut, pembelajaran kooperatif tidak memerlukan kelompok permanen.

Berpikir Kritis(Critical Thinking)

Berpikir Kritis - Berpikir kritis adalah kumpulan kegiatan mental (pikiran) yang mencakup kemampuan untuk berintuisi, mengklarifikasi, merenung, menghubungkan, menyimpulkan, dan menilai. Guru harus membawa kegiatan berpikir kritis ini secara bersama-sama dan memungkinkan siswa untuk mempertanyakan materi pembelajaran/pengetahuan yang ada.

Diskusi (Discussion)

Strategi Diskusi - Melibatkan siswa dalam diskusi akan memperdalam proses pembelajaran dan memotivasi mereka, dengan jalan mendorong mereka untuk mengembangkan pendapat dan pandangan mereka sendiri dan mendengar suara mereka sendiri. Sebuah lingkungan yang baik untuk interaksi dalam strategi diskusi sangat diperlukan untuk mendorong siswa agar mau dan mampu berbicara.

Pembelajaran Pengalaman (Experiential Learning)

Experiential Learning - Experiential learning adalah sebuah pendekatan untuk pendidikan yang berfokus pada "learning by doing," pada pengalaman subyektif peserta. Peran guru adalah untuk merancang "pengalaman langsung" yang mencakup latihan persiapan dan reflektif.

Game-Eksperimen-Simulasi

Game / Eksperimen / Simulasi - Game, eksperimen dan simulasi dapat menjadi lingkungan belajar yang kaya bagi siswa. Siswa saat ini telah terbiasa bermain game dan menggunakan alat-alat interaktif seperti internet, telepon, dan peralatan lainnya. Game dan simulasi memungkinkan siswa untuk memecahkan masalah di dunia nyata di lingkungan yang aman dan memungkinkan mereka untuk menikmatinya saat melakukannya.

Humor (Jokes)

Humor - Menggunakan humor dalam kelas dapat meningkatkan belajar siswa dengan karena humor yang relevan dapat meningkatkan pemahaman dan retensi.

Inkuiri Terbimbing (Guided Inquiry)

Inkuiri-Terbimbing / Guided Inquiry- Dengan metode pembelajaran inkuiri terbimbing, , siswa akan sampai pada pemahaman tentang konsep-konsep diri dan tanggung jawab untuk belajar mandiri. Metode ini mendorong siswa untuk membangun keterampilan meneliti yang dapat digunakan di wilayah pembelajaran mereka yang lain.

Pembelajaran Interdisipliner

Pembelajaran Interdisipliner - Pembelajaran Interdisipliner adalah pembelajaran yang menggabungkan dua topik yang berbeda ke dalam satu kelas. Guru yang berpartisipasi dalam pembelajaran interdisipliner menemukan bahwa siswa dapat belajar melalui pendekatan materi yang berbeda.

Pembelajaran Berpusat pada Siswa (Student Centred Learning)

Pembelajaran Berpusat Pada Siswa / Learner-Centered. Pembelajaran yang berpusat pada siswa merupakan pendekatan yang memandang siswa sebagai pusat pembelajaran. Siswa bertanggung jawab untuk belajar bagi dirinya sendiri, sementara guru bertanggung jawab untuk memfasilitasi pembelajaran. Paradigma ini menggeser peran guru sebagai aktor utama dalam pembelajaran, dan berpindah ke siswa.

Komunitas Belajar (Learning Community)

Komunitas Belajar - Komunitas membawa orang secara bersama-sama untuk belajar bersama, menemukan, dan menggenerasi pengetahuan. Dalam komunitas belajar, semua peserta mengambil tanggung jawab untuk mencapai tujuan belajar. Yang terpenting, komunitas belajar adalah proses dimana individu datang bersama-sama untuk mencapai tujuan belajar.

Strategi Kuliah (Expository)

Strategi Kuliah - Kuliah adalah cara paling umum saat ini yang digunakan dalam pembelajaran di kelas. Namun, dengan karakteristik siswa saat ini, strategi kuliah biasanya tidak menarik perhatian siswa untuk waktu yang lama, meskipun digunakan alat bantu untuk menyampaikan informasi kepada siswa.

Belajar Mobile (Mobile Learning)

Belajar Mobile - Belajar Mobile adalah semua jenis pembelajaran yang terjadi ketika peserta didik tidak di lokasi yang tetap.

Kursus Online/Hybrid

Kursus online / Hybrid - Program online dan hibryd adalah strategi pembelajaran yang memerlukan perencanaan yang cermat dan pengorganisasian yang baik. Pada kursus online ini, ada pertimbangan penting yang berbeda dengan kursus tradisional yaitu aspek komunikasi dengan siswa menjadi sangat penting.

Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)

Pembelajaran Berbasis Masalah - Masalah berbasis Learning (PBL) merupakan metode pembelajaran yang menantang siswa untuk "belajar untuk belajar," bekerja dalam kelompok untuk mencari solusi untuk masalah dunia nyata. Proses ini meniru pendekatan sistemik yang  biasa digunakan untuk memecahkan masalah atau memenuhi tantangan yang dihadapi dalam hidup, dan akan lebih membantu siswa untuk memilih karir mereka di kemudian hari.

Strategi Perangkat Jejaring Sosial

Perangkat Jaringan Sosial - Perangkat jaringan sosial memungkinkan sekolah untuk melibatkan para siswa dalam cara baru dan berbeda dalam hal komunikasi.

Pembelajaran Siswa Beragam

Pembelajaran Siswa Beragam - Guru hari ini menghadapi siswa yang beragam dalam program mereka dan sering kali memerlukan bantuan dalam mengetahui bagaimana menangani mereka.

Studi Kasus (Case Study)

Studi Kasus - Studi kasus adalah strategi pembelajaran di mana guru menyajikan siswa masalah kehidupan nyata sehingga memungkinkan siswa untuk menerapkan apa yang telah mereka pelajari di kelas untuk situasi kehidupan nyata. Kasus yang diberikan juga akan  mendorong siswa untuk mengembangkan keterampilan pemecahan masalah yang logis dan, jika digunakan dalam tim untuk mengembangkan keterampilan interaksi dalam kelompok. Siswa mendefinisikan masalah, menganalisa tindakan alternatif mungkin dan memberikan solusi dengan alasan yang mendasari pilihan mereka.

Pembelajaran Berbasis Tim - Tim Based Learning

Pembelajaran Berbasis Tim - Tim Based Learning (TBL) adalah pendekatan yang cukup baru untuk mengajar di mana siswa saling bergantung satu sama lain untuk pembelajaran mereka sendiri dan bertanggung jawab untuk kelompoknya. Penelitian telah menemukan bahwa siswa lebih bertanggung jawab dan lebih terlibat ketika pembelajaran berbasis tim diimplementasikan. Perbedaan utama dalam kegiatan kelompok TBL dan normal adalah bahwa kelompok yang permanen dan sebagian besar waktu kelas dikhususkan untuk pertemuan kelompok.

Sumber: pedagogy.merlot.org

Demikian artikel tentang berbagai strategi pembelajaran yang dapat diterapkan di kelas. Semoga bermanfaat.

5/11/2015

Teori Pembelajaran Konstuktivis

Teori Pembelajaran Konstuktivis
Teori Pembelajaran Konstuktivis

Muhammad Faiq Dzaki

Teori konstrukvis menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan‑aturan dan merevisinya apabila aturan‑ aturan itu tidak lagi sesuai. Bagi siswa agar benar‑benar memahami dan menerapkan pengetahuan, mereka harus bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya, berusaha dengan susah payah dengan ide‑ide Teori ini berkembang dari piaget dan Vygotsky (Slavin,1994:225).

Menurut teori konstruktivis ini, satu prinsip yang paling penting dalam psikologi pendidikan adalah guru tidak dapat hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa liarus membangun sendiri pengetahuan di dalam benaknya. Guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini, dengan memberi kesempatan untuk menemukan atau menerapkan ide‑ide mereka sendiri, dan mengajar siswa menjadi sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberi siswa anak tangga yang mernbawa siswa ke pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendirl yang harus memanjat anak tangga tersebut. Guru seharusnya hadir sebagai nara sumber dan seharusnya bukan menjadi penguasa kelas yang memaksakan jawaban yang benar. Siswa harus bebas membangun pemahaman increka sendiri. Solusi siswa terhadap masalah dan pertanyaan‑pertanyaan rnereka mencerminkan pandangan mereka.

Menurut piaget, perkembangan kognitif sebagian besar bergantung pada seberapa besar anak aktif memanipulasi dan aktif berinteraksi dengan lingkungannya (Slavin, 1994:45). Sedangkan rnenurut Vygotsky bahwa pembelajaran terjadi apabila anak bekerja atau belajar menangani tugas‑tugas yang belum dipelajari, namun tugas‑tugas itu masih berada dalam jangkuan kemampuannya atau tugas‑tugas tersebut berada dalam zone of proximal development. Zone of proximal development adalah daerah antar tingkat perkembangan sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan memecahkan masalah secara mandiri dan tingkat perkembangan potensial yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu (Shaffer, 1996: 274‑275).

Proses pembelajaran yang terjadi menurut pandangan konstruktivisme menekankan pada kualitas dari keaktifan siswa dalam menginterpretasikan dan membangun pengetahuannya. Setiap organisme menyusun pengalamannya dengan jalan menciptakan struktur mental dan menerapkannya dalam pembelajaran. Suatu proses aktif dalam mana organisme atau individu berinteraksi dengan lingkungannya dan mentransformasinya ke dalam pikirannya dengan bantuan struktur kognitif yang telah ada dalarn pikirannya (Cobb, 1994:15).

5/04/2015

Pengertian Metode Pembelajaran



Metode pembelajaran adalah suatu cara atau upaya yang dilakukan oleh para pendidik agar proses belajar-mengajar pada siswa tercapai sesuai dengan tujuan. Metode pembelajaran ini sangat penting di lakukan agar proses belajar mengajar tersebut nampak menyenangkan dan tidak membuat para siswa tersebut suntuk, dan juga para siswa tersebut dapat menangkap ilmu dari tenaga pendidik tersebut dengan mudah.

Ada beberapa macam metode pembelajaran, diantaranya:
1. Metode ceramah
Metode ceramah adalah metode belajar mengajar secara tradisional, sebab metode pembelajaran ini telah gunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dan anak didik dalam interaksi edukatif sejak dari dahulu.

2. Metode eksperimen
Metode eksperimen ini memberikan kesempatan kepada para anak didik secara individu atau pun berkelompok untuk dilatih dalam melakukan suatu proses atau percobaan-percobaan. Metode ini bertujuan agar para anak didik tersebut berpikir kreatif, mandiri dan inovatif.

3. Metode pemberian tugas
Metode pemberian tugas di maksudkan para pendidik memberikan penjelasan dalam suatu bahasan lalu para pendidik tersebut memberikan tugas kepada para siswa untuk mengembangkan pembahasan yang telah di bahas, hal tersebut bertujuan agar para siswa berpikir dan memiliki wawasan yag luas.

4. Metode diskusi
Metode ini adalah suatu alternatif dalam mengamati dan mencari jalan keluar dari suatu masalah melalui gagasan-gagasan yang di berikan para siswa, metode ini bertujuan untuk melatih para siswa agar berani dalam menyampaikan pendapat atau pun saran dan untuk mengembangkan pemikiran mereka.

5. Metode latihan
Metode latihan atau metode training yaitu metode yang menanamkan tentang kebiasaan-kesbiasaan tertentu dan untuk memelihara kebiasaan-kebiasaan baik terhadap anak. Metode latihan ini bertujuan untuk membentuk kebiasaan serta ketepatan dan kecepatan dalam pelaksanaan.

6. Metode proyek
Metode ini menggunakan cara mengajar dengan memberikan kesempatan kepada para siswa untuk menggunakan hal-hal yang ada di kehidupan sehari-hari sebagai bahan pendidikan. Metode ini bertujuan agar anak didik tertarik untuk terus belajar dan juga untuk membentuk pola pikir anak menjadi luas.

5/01/2015

Lembar Pengamatan Pengelolaan Pembelajaran Kooperatif

Contoh Lembar Pengamatan Pengelolaan Pembelajaran Kooperatif 

Beberapa kawan yang sudah mulai mencoba melakukan penelitian tindakan kelas ternyata mengalami kesulitan membuat instrumen penelitian berupa lembar pengamatan kemampuan guru mengelola pembelajaran kooperatif. Padahal, keberadaan instrumen penelitian ini sangat vital. Coba, gimana bisa mengambil data penelitian kalau instrumennya tidak punya?

Download Lembar Observasi Pengelolaan Pembelajaran Kooperatif

Nah, berdasarkan hal itu, kali ini kami akan memposting sebuah contoh lembar pengamatan pengelolaan pembelajaran kooperatif yang dilaksanakan oleh guru. Lembar pengamatan pengelolaan pembelajaran kooperatif ini dibuat berdasarkan karakteristik dan langkah-langkah pembelajaran kooperatif. Jika anda juga membutuhkankan lembar pengamatan pengelolaan pembelajaran kooperatif ini, anda dapat mendownloadnya di sini, yaitu dengan mengklik teks di bawah gambar di bawah ini.

Klik Di Sini


Semoga lembar pengamatan kemampuan guru mengelola pembelajaran kooperatif di atas dapat bermanfaat untuk anda yang juga mungkin sedang melakukan PTK (penelitian tindakan kelas) terkait model pembelajaran tersebut. 

Metode SAVI untuk Bahasa Indonesia SD

Metode SAVI untuk Bahasa Indonesia SD

Peningkatan Kemampuan Membaca Pemahaman Dengan Pendekatan SAVI (Somatis, Auditori, Visual Dan Intelektual) Pada Siswa Kelas VI SD Negeri Kutawaru 04 Kecamatan Silacap Tengah Kabupaten Cilacap Tahun Pelajaran 2009-2010


Oleh:
Suswandi

Magister Pendidikan Bahasa
Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta
Jl. A. Yani, Tromol Pos 1 Pabelan, Kartasura, Surakarta


Sumber Jurnal:

Jurnal Penelitian Humaniora adalah jurnal ilmiah artikel hasil penelitian ilmu-ilmu humaniora seperti teologi, filsafat, ilmu hukum, filologi, ilmu bahasa, kesusasteraan, ilmu kesenian, dan lain-lain. Periode penerbitannya adalah 2 kali dalam setahun dan terbit pertama pada Februari 2000.
Universitas Muhammadiyah Surakarta
Humaniora Volume 11 Th. 2010
http://lppm.ums.ac.id/index.php/jurnal-ilmiah/123-jurnal-penelitian-humaniora

Abstrak:

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan dan keaktivan siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia pada aspek membaca pemahaman siswa kelas VI SD Negeri Kutawaru 04 Kecamatan Cilacap Tengah Kabupaten Cilacap melalui penerapan pendekatan SAVI. PTK menggunakan model Elliots yang menyatakan bahwa penelitian tindakan sebagai serangkaian langkah yang membentuk spiral. PTK dilaksana-kan dalam 3 siklus, dan masing-masing siklus terdiri dari 2 kali pertemuan. Setiap si-klus memiliki empat tahap, yaitu perencanaan (planing),tindakan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting) Subjek penelitian tindakan ini adalah siswa kelas VI sejumlah 35 siswa, laki-laki 15 siswa perempuan 20 siswa dan guru kelas kelas VI SD Negeri Kutawaru 04 kecmatan Cilacap Tengah Kabupaten Cilacap. Teknik pengumpulan data meliputi pengamatan, wawancara, kajian dokumen, angket, dan tes. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik deskriptif komparatif dan analisis kritis. Teknik yang digunakan untuk memeriksa validitas data antara lain adalah triangulasi dan review informan kunci Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik deskriptif komparatif dan analisis kritis. Simpulan penelitian ini yaitu pelaksanaan pembelajaran membaca pemahaman di kelas VI SD Kutawaru 04 Kecamatan Cilacap Tengah, dapat berjalan dengan efektif dengan diterapkannya pendekatan SAVI Keaktifan siswa dari siklus I, II dan III berangsur-angsur meningkat dari 67,62%, 88,57% dan 93,65%. Di samping itu, terjadi peningkatan nilai rata-rata kemampuan membaca pemahaman dari siklus I hingga Created by User siklus III. Siklus I jumlah siswa yang tuntas mencapai 23 siswa (66,67%), sebelumnya uji coba awal hanya 17 siswa (47,62%). sedangkan nilai rata-rata yang dicapai pada siklus I sebesar 65,71. Sebelumnya, nilai rata-rata uji coba awal 60,24. Pada siklus II ada peningkatan (4,76%) sehingga jumlah siswa yang tuntas sebanyak 24 siswa (71,43%). Dan nilai rata-rata mencapai 72,38. Dilihat dari rerata sudah mencapai batas KKM, namun dari segi ketuntasan klasikal belum tercapai sehingga dilanjutkan tindakan siklus III. Hasilnya cukup memuaskan karena jumlah siswa tuntas sudah mencapai 90,48%, dan reratanya mencapai 80,24.
.
Kata Kunci: membaca pemahaman, pendekatan SAVI dan PTK

Sebagian Isi JurnalPenelitian:

...............
Pembelajaran tidak otomatis meningkat dengan menyuruh anak berdiri dan bergerak. Akan tetapi, menggabungkan gerak fisik dengan aktivitas intelektual dan penggunaan semua indra dapat berpengaruh besar terhadap pembelajaran. Pendekatan seperti ini dinamakan dengan pendekatan SAVI. Unsur-unsurnya mudah diingat, yaitu :
a. Somatis : Belajar dengan bergerak dan berbuat,
b. Auditori : Belajar dengan berbicara dan mendengar,
c. Visual : Belajar dengan mengamati dan menggambarkan, dan
d. Intelektual : Belajar dengan memecahkan masalah dan merenung .
Belajar bisa optimal jika keempat unsur SAVI ada dalam suatu peristiwa pembelajaran. Pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan mereka memecahkan masalah (Intelektual) jika mereka secara simultan menggerakkan sesuatu (Somatis) untuk menghasilkan pictogram atau pajangan tiga dimensi (Visual) sambil membicarakan apa yang sedang mereka kerjakan (Auditori). Menggabungkan keempat modalitas belajar dalam satu peristiwa pembelajaran adalah inti dari Pembelajaran Multi Indrawi.

Pertama, membaca secara Somatis. Ini berarti bahwa saat membaca, kita perlu melibatkan fisik kita. Membaca akan efektif apabila posisi tubuh kita dalam keadaan yang relaks, tidak tegang. Apabila selama membaca mengalami rasa jenuh, dicoba menghentikan proses pembacaan sejenak, lalu menggerakkan seluruh tubuh kita. Dengan menggerakkan seluruh tubuh kita, pikiran dan perasaan kita akan merasa segar kembali.

Kedua, membaca secara Auditori. Kadang-kadang kita menemui beberapa kalimat yang kita baca yang sulit sekali kita cerna. Atau, pada saat membaca, tiba-tiba ditemukan baris-baris kalimat yang menarik namun kita sulit berkonsentrasi untuk memahaminya. Apabila terjadi demikian, dicoba kalimat-kalimat tersebut dibaca secara keras sehingga telinga-lahir kita mendengarnya secara jelas. Dengan begitu, kita akan dapat lebih cepat dan akurat memahami kalimat tersebut.

Ketiga, membaca secara Visual. Menurut Eric Jensenn (dalam Meier, 2005), seorang pakar pendidikan yang tekun meneliti hubungan learning dan brain, di benak kita akan merasa “fun” apabila pada saat pertama kali menyerap informasi, benak itu diberi informasi dalam bentuk gambar (ikon atau simbol atau ornamen) dan informasi itu memiliki kekayaan warna. Buku yang mampu membuat para pembacanya merasa senang sebaiknya memang diberi sentuhan visual atau dalam bahasa yang lain dengan menggunakan bahasa rupa.

Keempat, membaca secara Intelektual. Kata intelektual yang digunakan di sini perlu diberi catatan khusus. Arti intelektual yang digunakan di sini tidak melulu berhubungan dengan kegiatan berpikir yang kering, tetapi menggabungkan atau merumuskan yang kaya akan nuansa. Ini hanya dapat dicapai apabila difungsikan potensi intelek kita untuk menuju sebuah perenungan yang intens. Ada kemungkinan perenungan yang intens ini akan mengarah kepada pemberian makna berkaitan dengan aktivitas membaca kita.................DST.

BACA SELENGKAPNYA DI SINI.

4/29/2015

Guru yang Mampu Menciptakan Lingkungan Belajar yang Positif

Guru yang Mampu Menciptakan Lingkungan Belajar yang Positif

Guru yang Mampu Menciptakan Lingkungan Belajar yang Positif

Beberapa poin penting tentang guru yang mampu menciptakan lingkungan belajar yang positif untuk mendorong keberhasilan belajar siswa:
  • Guru yang profesional selalu merencanakan pembelajaran dengan hati-hati. Mereka memahami hubungan antara perencanaan yang baik dengan lingkungan kelas yang berorientasi pada tugas dan berjalan dengan lancar. Berikut beberapa poin tentang guru dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif.
  • Guru harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang mendorong tumbuhnya interaksi sosial positif, keikutsertaan yang aktif dalam belajar (hands on dan minds on), dan motivasi diri.
  • Guru harus mampu mengembangkan sistem untuk mengawasi kelasnya sehingga siswa dan guru dapat fokus pada belajar, bukan pada mengontrol kenakalan. Disiplin dan teknik manajemen berbeda-beda dan tidak ada satupun yang paling efektif, semua memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Karena itu guru yang mumpuni mempertimbangkan hasil belajar yang diharapkan, pengetahuan tentang siswa, keadaan sosial, dan pengalaman sebelumnya dalam memilih suatu strategi manajemen.
  • Guru harus memahami prinsip manajemen kelas yang efektif dan dapat menggunakan berbagai variasi manajemen untuk meningkatkan hubungan positif, kerjasama, dan pembelajaran yang bertujuan dalam kelasnya.
  • Pengawasan oleh guru harus bersifat preventif (pencegahan) dan halus. Siswa mengawasi perilaku mereka masing-masing dan teman-temannya, saling memperbaiki dengan penuh hormat.

4/28/2015

Menciptakan Suasana Positif dalam Kelas

Menciptakan Suasana Positif dalam Kelas
Anda guru kelas baru yang belum terlalu bagus mengelola kelas? Atau Anda adalah seorang guru yang ingin memperbaiki suasana kelas Anda sehingga pembelajaran yang berlangsung di dalamnya menjadi lebih efektif dari sebelumnya? Berikut ini kami berikan tiga (3) cara untuk menciptakan (dan tentu saja menjaga) suasana kelas Anda agar senantiasa positip bagi pembelajaran:

3 Cara Menciptakan Suasana Positif dalam Kelas

Peduli dengan kemajuan dan keberhasilan pembelajaran siswa

Selalu yakinkan kepada siswa Anda, bahwa Anda selalu peduli dengan kemajuan dan keberhasilan pembelajaran mereka. Kebanyakan siswa membutuhkan perhatian dari guru. Kehadiran guru di dalam kelas sangat penting bagi mereka. Bila Anda seorang wali kelas yang baik, selalulah membiasakan diri untuk rutin menjenguk kondisi siswa Anda di kelas. Berikan perhatian terhadap tugas-tugas yang telah diberikan guru-guru lain kepada mereka, tanyakan bagaimana PR yang diberikan, berapa nilai yang diperoleh, atau berapa banyak dari mereka yang membutuhkan pembelajaran remedial, dsb. Bersikaplah peduli dan tunjukkan dengan tulus bahwa Anda senang jika siswa di kelas asuhan Anda sukses.

Ajarkan kepada siswa Anda bagaimana berperilaku di dalam kelas

Berikan waktu khusus untuk mengajarkan kepada siswa Anda bagaimana berperilaku di dalam kelas.  Ada banyak siswa yang membutuhkan hal ini. Itu terjadi karena pada beberapa dari mereka mempunyai kehidupan yang amat berbeda, tentang bagaimana bersikap dan berperilaku yang baik, juga di dalam kelas. Seringkali beberapa siswa berasal dari keluarga amburadul yang sama sekali tak memperhatikan tata krama. Biasakan mereka untuk selalu berdisiplin. Ajari mereka manajemen waktu dan kegiatan sehingga tugas-tugas belajar yang diberikan di sekolah dapat dilaksanakan dengan baik oleh mereka.

Atasi masalah dengan ketegasan

Atasi siswa yang bermasalah di kelas Anda dengan suara dan tindakan yang tegas tetapi tetap menunjukkan rasa sayang dan peduli. Kebanyakan guru menjadi frustasi dengan perilaku tak pas atau kenakalan siswa mereka. Semakin frustasi Anda menghadapi tingkah polah mereka, semakin tertutup pemikiran kreatif Anda untuk menyelesaikan masalah yang timbul. Jika ada siswa Anda yang menimbulkan masalah atau melakukan kenakalan, maka tegur ia dengan suara yang tegas dan tunjukkan wibawa Anda. Katakan padanya bahwa guru juga manusia, sehingga apabila perilaku dan tingkah polah mereka mengganggu dan tidak cocok dengan pembelajaran dan tata tertib sekolah,maka guru juga bisa marah atau jengkel. Nasihati mereka baik-baik. Tunjukkan rasa sayang Anda kepada mereka, dan beri kesan bahwa jauh di lubuk hati Anda, Anda selalu membela mereka, seberapun besar kesalahan mereka.


Terimakasih telah membaca artikel: Menciptakan Suasana Positif Dalam Kelas. Semoga bermanfaat.

4/13/2015

Pengertian Kegiatan Ekstrakurikuler?

Pengertian Kegiatan Ekstrakurikuler?
Pada Surat Keputusan Dirjen Dikdasmen Nomor 226/C/Kep/O/1992, dijelaskan bahwa kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan di luar jam pelajaran biasa dan pada waktu libur sekolah yang dilakukan baik di sekolah ataupun di luar sekolah. Tujuan program ekstrakurikuler adalah untuk memperdalam dan memperluas pengetahuan siswa, mengenal hubungan antar berbagai mata pelajaran, menyalurkan bakat dan minat, serta melengkapi upaya pembinaan manusia seutuhnya.
Kemudian dalam Surat Keputusan Mendikbud Nomor 060/U/1993 dan Surat Keputsan Mendikbud Nomor 080/U/1993, dijelaskan bahwa kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan yang diselenggarakan di luar jam pelajaran yang tercantum dalam susunan program sesuai dengan keadaan dan kebutuhan sekolah, dan dirancang secara khusus agar sesuai dengan faktor minat dan bakat siswa.

Sebagaimana kita ketahui, kegiatan kurikuler sendiri adalah upaya untuk mempersiapkan siswa untuk memiliki kemampuan intelektual, emosiaonal, spiritual, dan sosial. Melalui pengembangan aspek-aspek tersebut diharapkan siswa dapat menghadapi dan mengatasi berbagai perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam lingkungan pada lingkup terkecil dan terdekat, hingga lingkup yang terbesar lokal, nasional, regional, bahkan global). Karena sasaran kompetensi yang diharapkan itu meliputi jangkauan kompetensi yang amat luas, berupa aspek intelektual, sikap emosional, dan keterampilan, maka pada akhirnya kegiatan ekstrakurikuler menjadi tidak terbatas pada program untuk membantu ketercapaian tujuan kurikuler saja, tetapi juga mencakup pemantapan dan pembentukan kepribadian yang utuh termasuk di dalamnya pengembangan minat dan bakat siswa. Program kegiatan ekstrakurikuler, dengan demikian, harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat menunjang kegiatan kurikuler, maupun pengembangan pembentukan kepribadian tadi.

4/08/2015

Arti Portofolio

Arti Portofolio
Dalam Kamus Inggris Indonesia (Echols dan Shadily, 1996: 439), portofolio diartikan sebagai tas surat dan jabatan (menteri). Sedangkan dalam The Contemporary Dictionary (Salim, 1996: 1453) diartikan sebagai tas surat, daftar stock, surat berharga dan jabatan menteri. Arti kamus di atas belum jelas jika dikaitkan dengan pembelajaran. Oleh karena. itu, berikut akan dijelaskan pengertian portofolio berdasarkan pendapat beberapa ahli dalam bidang pendidikan.

Johnson dan Johnson (2002: 103) mendefinisikan a portfolio is an organized collection of evidence accumidated over time on a student's or group's academic progress, achievements, skills, and attitudes. It consists of work samples and awritten rationale connecting the separate items into more complete and holistic view of the student’s achievements or progres toward learning goals.
Jadi portofolio merupakan koleksi dari bukti‑bukti kemajuan siswa atau kelompok siswa, bukti prestasi, keterampilan, dan sikap siswa.

Dari kutipan di atas, tergambar bahwa portofolio merupakan koleksi pekerjaan‑pekerjaan siswa. Portofolio menampilkan pekerjaan siswa yang terbaik atau karya siswa yang paling berarti sebagai hasil kegiatannya. Portofolio dapat menampilkan pekerjaan terdahulu dan pekerjaan terbaru sehingga mengilustrasikan kemajuan belajar siswa.

Selain pendapat di atas, Airasian (dalam Ratumanan, 2003: 80) juga menjelaskan bahwa portofolio lebih dari sekedar folder penyimpanan hasil karya siswa. Portofolio berisi sampel terpilih dari karya siswa untuk memperlihatkan perkembangan dan pertumbuhan siswa dalam mencapai tujuan kurikulum tertentu.

Kutipan di atas menjelaskan bahwa portofolio adalah kumpulan karya siswa. Istilah ini diambil dari portofolio seniman, yaitu kumpulan karya seniman yang dirancang untuk dapat memperlihatkan gaya dan kemampuannya. Pada pemakaian di kelas tujuan dasarnya sama, yaitu untuk mengumpulkan serangkaian penampilan atau karya murid guna memperlihatkan pencapaian atau perbaikan murid dari waktu ke waktu. Portofolio lebih dari sekedar map penyimpan hasil karya siswa. Portofolio berisi sampel terpilih dari karya siswa untuk memperlihatkan perkembangan dan pertumbuhan siswa dalam mencapai tujuan kurikulum tertentu.

Dari beberapa pengertian yang diberikan di atas, maka portofolio siswa dapat diartikan sebagai dokumen‑dokumen dari pekerjaan siswa. Isi dari portofolio akan menjadi perhatian utama bagi guru dalam program pengajarannya. Meskipun istilah portofolio relatif baru bagi kita dan diakui oleh ahli-­ahli pendidikan masih baru dalam penerapan di bidang pendidikan, tetapi bukan berarti bahwa penggunaan portofolio atau metode yang serupa sama sekali tidak pernah dilaksanakan oleh guru‑guru di Indonesia. Sebagai contoh yang dialami oleh peneliti ketika SMA, setiap siswa diwajibkan memiliki buku kokurikuler IPA sebagai tempat menyelesaikan PR dan tugas‑tugas di kelas. Buku tersebut dikumpulkan dan diperiksa oleh guru dan setelah direvisi, dibagikan kepada siswa.

4/06/2015

Merumuskan Tujuan Pembelajaran

tujuan pembelajaran
Tujuan Pembelajaran, perlukah?

Merumuskan Tujuan Pembelajaran

Kali ini kami akan mencoba membahas tentang  merumuskan tujuan pembelajaran. Silakan disimak semoga bermanfaat.

Definisi Tujuan Pembelajaran

  • "Perubahan yang ditujukan dan dimiliki oleh pelajar." (Popham, et al.. 1969)
  • "Pernyataan tentang apa yang siswa harus mampu lakukan sebagai konsekuensi dari pembelajaran." (Goodlad, dalam Popham et al, 1969.)
  • "Formulasi eksplisit tentang dengan cara bagaimana siswa diharapkan akan diubah oleh proses edukatif." (Bloom, 1956)
  • "Apa yang siswa harus mampu lakukan pada setelah kegiatan belajar di mana sebelumnya mereka tidak bisa melakukannya." (Mager, 1962)
  • "Tujuan pembelajaran adalah deskripsi dari kinerja yang guru inginkan dapat ditunjukkan oleh peserta didik sebelum guru dapat menganggap mereka kompeten. Sebuah tujuan lebih menggambarkan hasil yang diinginkan dari suatu pembelajaran, daripada proses pembelajaran itu sendiri.." (Mager, 1975)
  • "Tujuan pendidikan yang dirumuskan dengan baik adalah pernyataan yang relatif spesifik tentang apa yang harus mampu dilakukan siswa setelah mengikuti pembelajaran." (Gallagher dan Smith, 1989)

Ciri dan Karakteristik Tujuan Pembelajaran Yang Baik

Menurut Guilbert (1984) dalam artikelnya yang berjudul "How to Devise Educational Objectives", tujuan pembelajaran yang baik mempunyai ciri-ciri:
  • relevan
  • tegas
  • layak
  • logis
  • dapat diamati (tampak)
  • Measurable

Karakteristik tujuan yang efektif menurut Westberg dan Jason (1993) dalam buku "Collaborative Clinical Education" adalah:
  • Konsisten dengan tujuan keseluruhan dari sekolah
  • jelas dinyatakan
  • Realistis dan dapat dilakukan
  • Sesuai untuk tahap pelajar 'pembangunan
  • tepat komprehensif
  • Layak, hasil yang diminta tidak kompleks
  • Tidak diperlakukan seolah-olah mereka terukir di batu (sangat baku)
  • Tidak dianggap sebagai satu-satunya hasil yang berharga
Model Mager merekomendasikan bahwa tujuan pembelajaran harus spesifik dan terukur, dan pada tujuan pembelajaran harus memiliki tiga bagian berikut:
  • kata kerja yang terukur (kata kerja operasional)
  • spesifikasi apa yang dapat ditunjukkan oleh siswa
  • spesifikasi kriteria keberhasilan atau kompetensi

Fungsi Tujuan Pembelajaran

Perdebatan tentang perlu tidaknya merumuskan tujuan pembelajaran dalam rencana pembelajaran dan menyampaikannya saat proses pembelajaran telah berlangsung selama bertahun-tahun. Ada hasil penelitian yang menunjukkan efektivitas tujuan pembelajaran terhadap peningkatan kualitas belajar siswa dan retensi (daya ingat) mereka. Tapi, ada juga hasil penelitian yang menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan. Namun, saat ini tujuan pembelajaran secara luas diterima sebagai komponen penting dari proses desain instruksional (rencana pembelajaran).

Adapun fungsi tujuan pembelajaran:
  • Panduan bagi guru untuk merancang pembelajaran
  • Panduan bagi guru untuk evaluasi
  • Panduan bagi siswa untuk memfokuskan belajarnya
  • Panduan untuk siswa dalam kaitan self assessment
  • Menunjukkan kepada orang lain apa yang kita nilai
  • Membantu hubungan antara guru dan pelajar karena dengan tujuan pembelajaran yang dinyatakan secara eksplisit siswa tidak dipaksa untuk menebak apa yang akan dipelajari
  • Meningkatkan kemungkinan untuk membuat fokus bahan belajar mandiri.
  • Membuat guru mengajar lebih terarah dan terorganisir.
  • Berkomunikasi dengan rekan tentang apa yang guru ajarkan kerjasama sehingga meningkatkan kerja sama tim dan dengan rekan-rekan.
  • Membantu evaluasi program
  • Masukan bagi guru untuk berpikir hati-hati tentang apa yang penting dalam kegiatan pembelajarannya
  • Membantu menghindari pengulangan yang tidak perlu dalam mengajar
  • Menyediakan visibilitas dan akuntabilitas keputusan yang dibuat oleh guru dan siswa
  • Menyediakan model untuk penciptaan tujuan pemebelajaran bagi siswa
  • Membantu siswa membuat keputusan mengenai prioritas
  • Memberikan umpan balik kepada siswa apa tujuan telah yang dicapai

3 Domain Tujuan Pembelajaran

  • Domain kognitif. 

    Mengacu pada pembelajaran intelektual dan pemecahan masalah.Tingkat kognitif pembelajaran meliputi: (1) pengetahuan, (2) pemahaman, (3) aplikasi, (4) analisis, (5) sintesis, dan (6) evaluasi. Contoh Tujuan: Mahasiswa akan membangun rencana perawatan untuk seorang remaja yang baru didiagnosis dengan IDDM. Rencana pengobatan harus memuat: ..............
  • Domain afektif. 

    Mengacu pada emosi dan sistem nilai seseorang. Tingkat afektif pembelajaran meliputi: (1) menerima, (2) menanggapi, (3) menghargai, (4) pengorganisasian, dan (5) karakterisasi dengan nilai. Tujuan Contoh: Mahasiswa akan menunjukkan komitmen untuk meningkatkan keterampilan kasus presentasi dengan secara teratur mencari umpan balik tentang presentasi.
  • Domain psikomotor.

    Mengacu pada karakteristik gerakan fisik dan kemampuan motorik keterampilan yang melibatkan perilaku yang membutuhkan tingkat tertentu keterampilan fisik dan koordinasi. Keterampilan ini dikembangkan melalui latihan berulang-ulang dan diukur dalam hal: kecepatan, ketepatan, jarak, prosedur, atau teknik pelaksanaan. Tingkat psikomotor meliputi: (1) persepsi, (2) set, (3) respon dipandu, (4) mekanisme, (5) respon yang jelas yang kompleks, (6) adaptasi, dan (7) originasi. Contoh Tujuan: Mahasiswa akan mengkalibrasi instrumen X sebelum melakukan prosedur Y.


4/04/2015

Standar Proses Pembelajaran Pada Kurikulum 2013

Standar Proses Pembelajaran Pada Kurikulum 2013
Berdasarkan standar proses pembelajaran pada implementasi Kurikulum 2013, maka guru harus melaksanakan 3 tahapan yaitu:
  • kegiatan pendahuluan
  • kegiatan inti
  • kegiatan penutup.

A. Kegiatan Pendahuluan pada Proses Pembelajaran Kurikulum 2013
Kegiatan pendahuluan yang harus dilakukan oleh guru berdasarkan amanat Kurikulum 2013 adalah: 


Kegiatan yang mula-mula harus dilakukan oleh guru pada kegiatan pendahuluan di dalam sebuah proses pembelajaran adalah mempersiapkan siswa baik psikis maupun fisik agar dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik. 


Selanjutnya guru harus mengajukan beberapa pertanyaan-pertanyaan terkait materi pembelajaran baik materi yang telah siswa pelajari serta materi-materi yang akan mereka pelajari dalam proses pembelajaran tersebut.
Setelah memberikan pertanyaan-pertanyaan, guru kemudian mengajak siswa untuk mencermati suatu permasalahan atau tugas yang akan dikerjakan sehingga dengan demikian mereka akan belajar tentang suatu materi, kemudian langsung dilanjutkan dengan menguraikan tentang tujuan pembelajaran atau KD yang akan dicapai pada pembelajaran tersebut. 


Terkahir, dalam kegiatan pendahuluan guru harus memberikan outline cakupan materi serta penjelasan mengenai kegiatan belajar yang akan dilakukan oleh siswa untuk menyelesaikan permasalahan atau tugas yang diberikan.

B. Kegiatan Inti pada Proses Pembelajaran Kurikulum 2013 Pada hakikatnya, kegiatan inti adalah suatu proses pembelajaran agar tujuan yang ingin dicapai dapat diraih. Kegiatan ini mestinya dilakukan oleh guru dengan cara-cara yang bersifat interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi siswa agar dengan cara yang aktif menjadi seorang pencari informasi, serta dapat memberikan kesempatan yang memadai bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis siswa.

Metode yang digunakan dalam kegiatan inti harus bersesuaian dengan karakteristik siswa dan mata pelajaran. Kegiatan inti mencakup proses-proses berikut: (1) melakukan observasi; (2) bertanya; (3) mengumpulkan informasi; (4) mengasosiasikan informasi-informasi yang telah diperoleh; (5) dan mengkomunikasikan hasilnya. Pada proses pembelajaran yang terkait dengan KD yang bersifat prosedur untuk melakukan sesuatu, guru memfasilitasi sedemikian rupa sehingga siswa dapat melakukan pengamatan terhadap pemodelan/demonstrasi yang diberikan guru atau ahli, siswa menirukannya, selanjutnya guru melakukan pengecekan dan pemberian umpan balik, dan latihan lanjutan kepada siswa.

Di tiap kegiatan pembelajaran seharunya guru memperhatikan kompetensi yang terkait dengan sikap seperti jujur, teliti, kerja sama, toleransi, disiplin, taat aturan, menghargai pendapat orang lain sebagaimana yang telah dicantumkan pada silabus dan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Cara-cara yang dilakukan berkaitan dengan proses pengumpulan data (informasi) diusahakan sedemikian rupa sehingga relevan dengan jenis data yang sedang dieksplorasi, misalnya di laboratorium, studio, lapangan, perpustakaan, museum, dan lain-lain. Sebelum menggunakan informasi atau data yang telah dikumpulkan dan diperoleh siswa mesti tahu dan kemudian berlatih, lalu dilanjutkan dengan menerapkannya pada berbagai situasi.

Berikut ini merupakan contoh penerapan dari kelima tahap kegiatan ini pada proses pembelajaran :


1. Melakukan observasi (melakukan pengamatan)
Dalam kegiatan melakukan pengamatan, guru membuka secara luas dan bervariasi kesempatan siswa untuk melakukan pengamatan melalui kegiatan-kegitan seperti: melihat, menyimak, mendengar, dan membaca. Guru memfasilitasi siswa untuk melakukan pengamatan, melatih mereka untuk memperhatikan (melihat, membaca, mendengar) hal yang penting dari suatu benda atau objek.
 

2. Bertanya
Pada saat siswa berada pada kegiatan melakukan pengamatan, guru membuka kesempatan secara luas kepada peserta didik untuk mempertanyakan mengenai apapun yang telah mereka lihat, mereka simak, atau mereka baca. Penting bagi guru untuk memberikan bimbingan kepada siswa agar bisa mengajukan pertanyaan. Pertanyaan yang dimaksud di sini berkaitan dengan pertanyaan dari hasil pengamatan objek yang konkrit sampai kepada yang abstrak baik berupa fakta, konsep, prosedur, atau pun hal lain yang lebih abstrak. Pertanyaan dapat pula yang bersifat faktual hingga pada pertanyaan yang bersifat hipotetik.

Berawal situasi siswa diajak untuk berlatih menggunakan pertanyaan dari guru diusahakan agar terus meningkat kualitas tahapan ini sehingga pada akhirnya siswa mampu mengajukan pertanyaan secara mandiri. Dari kegiatan bertanya ini akan dihasilkan sejumlah pertanyaan. Kegiatan bertanya dimaksudkan juga agar siswa dapat mengembangkan rasa ingin tahunya. Pada prinsipnya, semakin terlatih siswa untuk bertanya maka rasa ingin tahu mereka akan semakin berkembang.

Pertanyaan-pertanyaan yang telah mereka ajukan akan dijadikan dasar untuk mencari informasi yang lebih lanjut dan beragam dari sumber-sumber belajar yang telah ditentukan oleh guru hingga mencari informasi ke sumber-sumber yang ditentukan oleh siswa sendiri, dari sumber yang tunggal sampai sumber yang beragam.
 

3. Mengumpulkan dan mengasosiasikan informasi
Adapun langkah selanjutnya yang merupakan tindak lanjut dari kegiatan bertanya adalah menggali dan mengumpulkan informasi dari beragam sumber dengan bermacam cara. Dalam hal ini siswa boleh membaca buku yang lebih banyak, mengamati fenomena atau objek dengan lebih teliti, atau bisa juga melaksanakan eksperimen. Berdasarkan kegiatan-kegiatan inilah pada akhirnya akan dikumpulkan banyak informasi.

Informasi yang banyak ini selanjutnya akan dijadikan fondasi untuk kegiatan berikutnya yakni memproses informasi sehingga pada akhirnya siswa akan menemukan suatu keterkaitan antara satu informasi dengan informasi lainnya, menemukan pola dari keterkaitan informasi dan bahkan mengambil berbagai kesimpulan dari pola yang ditemukan.
 

4. Mengkomunikasikan hasil Kegiatan terakhir dalam kegiatan inti yaitu membuat tulisan atau bercerita tentang apa-apa saja yang telah mereka temukan dalam kegiatan mencari informasi, mengasosiasikan dan menemukan pola. Hasil tersebut disampikan di kelas dan dinilai oleh guru sebagai hasil belajar siswa atau kelompok siswa tersebut.
 

C. Kegiatan Penutup pada Proses Pembelajaran Kurikulum 2013
Pada kegiatan penutup, guru bersama-sama dengan siswa dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan pelajaran, melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram, memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran, merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik, dan menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.

Perlu diingat, bahwa KD-KD diorganisasikan ke dalam 4 (empat) KI (Kompetensi Inti).
KI-1 berkaitan dengan sikap diri terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
KI-2 berkaitan dengan karakter diri dan sikap sosial.
KI-3 berisi KD tentang pengetahuan terhadap materi ajar
KI-4 berisi KD tentang penyajian pengetahuan.

KI-1, KI-2, dan KI-4 harus dikembangkan dan ditumbuhkan melalui proses pembelajaran setiap materi pokok yang tercantum dalam KI-3, untuk semua mata pelajaran. KI-1 dan KI-2 tidak diajarkan langsung, tetapi menggunakan proses pembelajaran yang bersifat indirect teaching pada setiap kegiatan pembelajaran.