10/27/2020

Metode Pembelajaran TK yang Baik

Metode Pembelajaran TK - Pendidikan di taman kanak-kanak ataupun juga pendidikan anak usia dini merupakan sebuah pendidikan yang penting untuk mendukung perkembangan individu saat ini. Dengan pembelajaran di tingkat PAUD atau TK tersebut maka seorang individu akan dapat berkembang dengan baik sesuai dengan tingkat perkembangan usianya. Untuk mendapatkan pembelajaran TK yang berkualitas tentunya diperlukan sebuah metode atau cara yang baik, mengingat anak usia TK tersebut memiliki tingkat pemahaman yang masih terbilang rendah. Dengan demikian maka pembelajaran TK harus dibedakan dengan pembelajaran yang lainnya. Seperti apakah metode pembelajaran TK yang saya maksud tersebut? Beberapa penjelasannya akan saya sajikan berikut ini, sehingga penting bagi anda untuk menyimak ulasan berikut ini dengan seksama agar beragam informasi yang saya sajikan tentangnya dapat anda ketahui.

  1. Metode pertama yang dapat digunakan dalam pembelajaran TK adalah metode cerita. Seorang anak pada usia TK memiliki tingkat keingintahuan yang tinggi. Mereka sangat menyukai cerita, sehingga dengan hal ini maka seorang tenaga pendidik di taman kanak-kanak diharapkan dapat memberikan materi pembelajaran menggunakan cara-cara bercerita sehingga para peserta didiknya dapat lebih mudah memahami.
  2. Metode bercakap-cakap merupakan metode yang selanjutnya. Metode ini sangat baik digunakan untuk membantu seorang anak di tingkat TK dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Metode ini dititikberatkan pada kemampuan komunikasi yang dimiliki oleh peserta didik.
  3. Metode yang selanjutnya adalah metode tanya jawab. Di sini seorang tenaga pendidik dapat melakukan tanya jawab kepada para peserta didiknya. Dengan catatan tanya jawab yang dilakukan tersebut harus dapat memancing reaksi yang baik bagi para peserta didik tanpa membuat mereka merasa tertekan. Ada dua jenis pertanyaan yang dapat dilakukan, pertama dengan pertanyaan ingatan, yaitu pertanyaan yang diberikan untuk melihat sejauh mana daya tangkap yang dimiliki oleh setiap peserta didik. Yang kedua adalah pertanyaan pikiran, ini merupakan jenis pertanyaan yang memancing penggunaan daya pikir para peserta didik. Dengan metode ini maka seorang tenaga pendidik akan dapat mengetahui sejauh mana peserta didik berkembang.

Itulah beberapa ulasan yang dapat saya berikan kepada anda tentang pembelajaran di TK. Semoga sedikit ulasan yang saya sampaikan di atas dapat memiliki manfaat bagi anda sekalian.

10/23/2020

Hal yang Harus Diperhatikan Pengembangan Pembelajaran

Ada banyak hal yang harus diperhatikan oleh setiap penggerak pendidikan untuk melakukan pengembangan pembelajaran yang diberikan kepada para peserta didik. Di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Materi pembelajaran. Materi yang disampaikan dalam sebuah kegiatan pembelajaran merupakan hal yang teramat penting untuk dikembangkan dalam sebuah kegiatan pembelajaran. Hal ini berkaitan dengan pembelajaran apa saja yang bisa didapatkan oleh para peserta didik.
  2. Media pembelajaran. Kehadiran sebuah media yang baik dalam sebuah kegiatan pembelajaran merupakan sebuah hal yang teramat penting. Karena sebuah kegiatan pembelajaran tidak akan dapat berjalan dengan baik jika tanpa adanya sebuah media pembelajaran yang mendukung. Para peserta didik memiliki tingkat pemahaman yang berbeda-beda terhadap materi pembelajaran yang disampaikan oleh tenaga pendidiknya, terutama untuk materi pembelajaran yang bersifat abstrak. Sehingga hal ini peranan media pembelajaran adalah untuk membantu para peserta didik dalam memahami materi pembelajaran yang disampaikan oleh tenaga pendidiknya tersebut.
  3. Strategi pembelajaran. Cara penyampaian materi pembelajaran dari seorang tenaga pendidik kepada para peserta didik pun perlu untuk diperhatikan dalam pengembangan kegiatan pembelajaran. Hal ini terutama yang sangat diperlukan adalah meningkatkan kualitas tenaga pendidik yang dapat membaca situasi pembelajaran dan mengenali potensi yang dimliki oleh setiap peserta didiknya sehingga mereka bisa memilih dan mengembangkan sebuah strategi pembelajaran yang baik untuk dikembangkan. Sehingga dengan hal tersebut maka akan lebih mudah untuk mencapai tujuan dari adanya kegiatan pembelajaran.
  4. Situasi pembelajaran. Sebuah kegiatan pembelajaran tak akan berjalan dengan baik tanpa adanya situasi pembelajaran yang mendukung. Nah untuk mendapatkan situasi belajar yang mendukung tersebut maka diperlukan adanya sarana dan prasarana yang baik. Dengannya jika situasi pembelajaran ini telah kondusif maka tidak menutup kemungkinan kegiatan pembelajaran akan berlangsung  dengan baik. Sebaliknya jika suasana kondusif ini tidak didapatkan dalam sebuah kegiatan pembelajaran maka kegiatan pembelajaran yang berlangsung tidak akan berjalan dengan maksimal. Karena itulah pengembangan situasi pembelajaran yang baik ini merupakan sebuah hal yang paling penting untuk diperhatikan dalam sebuah kegiatan pembelajaran.

Demikianlah sedikit ulasan yang dapat saya sampaikan untuk anda sekalian. Semoga beberapa ulasan yang berhasil saya rangkai di atas dapat memberikan banyak manfaat untuk anda.

10/21/2020

Jenis Media Pembelajaran yang Digunakan di Sekolah

Media pembelajaran merupakan sebuah hal yang teramat penting untuk diperhatikan dalam sebuah kegiatan pembelajaran. Hal tersebut terjadi karena kehadiran media pembelajaran ini sangat berpengaruh pada proses terjadinya pembelajaran yang baik bagi para peserta didik. Nah pada ulasan berikut ini saya akan memberikan kepada anda beberapa penjabaran mengenai jenis media pembelajaran yang banyak digunakan di sekolah saat ini. Dengan sedemikian pentingnya informasi berikut yang saya sampaikan, maka akan sangat sayang jika anda lewatkan. Simak ulasan berikut ini dengan seksama.

  • Media Visual. Media Visual merupakan sebuah media pembelajaran yang dalam kegiatan pembelajaran menggantungkan kegiatan pada kinerja mata atau indera penglihatan kita. Media visual ini terdiri dari jua jenis, yakni media visual gerak dan media visual diam. contoh dari media pembelajaran visual diam ini adalah antara lain gambar, poster, dan lain sebagainya. contoh dari media pembelajaran visual diam ini adalah di antaranya gambar-gambar gerak layaknya film tanpa suara dan lain sebagainya.
  • Media audio. Media audio merupakan sebuah media pembelajaran yang dalam kegiatan pembelajaran menggantungkan kegiatan pada kinerja telinga atau indera pendengaran kita. Media audio contohnya adalah radio dan lain sebagainya.
  • Media pembelajaran yang selanjutnya adalah media audio visual. Media ini tidak hanya menampilkan media berupa gambar-gambar saja tetapi juga menggabungkannya dengan suara sehingga lebih interaktif.

Dalam sebuah kegiatan pembelajaran, media pembelajaran ini memiliki peranan yang sangat penting di antaranya adalah sebagi berikut.

  1. Dengan adanya media pembelajaran maka kegiatan belajar mengajar yang berlangsung dapat lebih maksimal. Para peserta didik akan lebih mudah dalam menerima materi pembelajaran yang disampaikan oleh tenaga pendidiknya.
  2. Media pembelajaran yang baik sangat bermanfaat bagi para tenaga pendidik untuk menyampaikan materi pembelajaran yang bersifat abstrak. Pelajaran-pelajaran yang abstrak tersebut akan sangat sulit untuk dipahami tanpa adanya media pembelajaran yang baik.

Dan demikianlah beberapa ulasan yang dapat saya berikan kepada anda, semoga beberapa ulasan yang saya sampaikan di atas dapat memberikan banyak manfaat untuk menambah pengetahuan yang anda miliki tentang media pembelajaran. Sekian, sampai berjumpa pada ulasan menarik yang akan saya sajikan pada ulasan yang selanjutnya!

Mengenal Model Pembelajaran Artikulasi

Model Pembelajaran Artikulasi - Kegiatan pembelajaran merupakan salah satu kegiatan yang terpenting dalam kehidupan manusia. Dengan kegiatan pembelajaran yang baik maka setiap individu akan dapat berkembang dengan baik di lingkungan yang semakin dinamis seperti yang terjadi saat ini. Kebutuhan akan sebuah kegiatan pembelajaran yang baik tersebut akhirnya telah memancing berbagai pihak untuk mengembangkannya. Hal tersebut terlihat dari semakin banyaknya model pembelajaran yang ada saat ini. Seperti satu di antaranya yang akan kita bahas pada ulasan berikut ini adalah tentang pembelajaran artikulasi. Seperti apakah pembelajaran atikulasi ini? Untuk mendapatkan keterangannya secara lengkap, maka sebaiknya anda membaca ulasan berikut ini dengan seksama.

Yang akan kita bahas pertama kali pada ulasan kali ini adalah mengenai pengertian dari model pembelajaran artikulasi ini sendiri. Model pembelajaran artikulasi ini merupakan sebuah model pembelajaran inovatif yang memiliki ciri utama sebuah proses penyampaian pesan secara berantai dari tenaga pendidik kepada para peserta didiknya lalu kepada peserta didik lain di dalam kelompok.

Yang membedakan antara model ini dengan model pembelajaran yang lainnya adalah karena di sini setiap peserta didik tidak hanya dituntut untuk menjadi pendengar dari materi yang disampaikan oleh tenaga pendidiknya. Tetapi, lebih dari itu mereka diwajibkan untuk menyampaikan kembali apa yang didengarnya dari tenaga pendidik kepada peserta didik yang lainnya yang telah ditentukan dalam kelompok-kelompok tertentu.

Model pembelajaran seperti ini memiliki kelebihan dalam hal memudahkan setiap peserta didik untuk belajar berinteraksi dengan baik, memiliki kedekatan dengan tenaga pendidiknya, mengembangkan kerjasama dengan peserta didik yang lainnya serta mereka akan lebih mudah untuk memahami materi yang disampaikan oleh tenaga pendidik karena mereka diwajibkan untuk menjelaskan ulang kepada peserta didik yang lainnya.

Namun model pembelajaran ini juga memiliki berbagai macam kelemahan, di antaranya adalah ketika terjadi sebuah permasalahan di dalam kelompok maka akan sulit untuk ditengahi,  waktu yang diperlukan untuk melaksanakan terbilang lama dan berbanding terbalik dengan jumlah materi yang dapat diterima oleh peserta didik karena hanya materi pelajaran tertentu saja yang bisa diberikan menggunakan model pembelajaran artikulasi ini.

Demikianlah yang dapat saya sajikan kepada anda tentang model pembelajaran artikulasi di atas. Sekian, semoga bermanfaat untuk anda sekalian.

10/19/2020

Strategi Pembelajaran Afektif

Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan terbesar yang ada di dunia. Negara ini memiliki jumlah penduduk yang sangat banyak dan menempati urutan ke-4 dalam jumlah penduduk terbesar di dunia. Hal ini menyebabkan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia sangatlah kompleks. Seperti yang kian diperbincangkan oleh banyak orang akhir-akhir ini mengenai permasalahan tentang semakin memudarnya nilai-nilai moral yang diterapkan oleh generasi penerus di Indonesia. Hal tersebut tentunya tak lepas dari adanya globalisasi yang semakin tidak terarah membuat masuknya budaya asing begitu mudah diterima oleh para generasi kita. Hal inilah yang akhirnya membuat budaya Indonesia yang syarat akan nilai dan norma sedikit demi sedikit mulai memudar.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka sangat diperlukan sebuah upaya untuk melakukan revitalisasi kebudayaan khususnya dalam hal pembelajaran kepada para peserta didik di sekolah. Salah satunya upaya yang dapat dilakukan oleh pihak-pihak yang terlibat adalah dengan menerapkan sebuah strategi pembelajaran afektif di sekolah. Strategi pembelajaran afektif ini dapat kita katakan sebagai jawaban dari arus globalisasi yang memudarkan nilai-nilai yang diterapkan oleh generasi muda kita. Karena ciri utama dari strategi pembelajaran ini bukan lagi menyoalkan pada urusan kognitif saja. Tetapi lebih menyoalkan tentang sisi afektif atau pengamalan nilai-nilai luhur yang tidak dapat terukur secara kuantitas tetapi dapat tercermin dari perilaku positif dari para peserta didik.

Dengan penerapan pembelajaran afektif ini di sekolah maka diharapkan para peserta didik di masa depan, bukan hanya mengerti dan paham terhadap kepandaian yang bersifat kognitif saja tetapi juga memiliki kecakapan dalam sisi afektif. Atau dengan kata lain hal ini bertujuan untuk mengembalikan kejayaan nilai-nilai luhur bangsa yang saat ini semakin luntur. Dengan demikian maka nilai-nilai luhur yang tercermin dalam kehidupan para peserta didik nantinya dapat menjadi sebuah identitas nasional yang tetap menjunjung tinggi nilai dan norma. Sehingga dengannya kehidupan bangsa menjadi seimbang dan budaya luhur pun dapat tetap terjaga sekalipun arus globalisasi tetap tak terkendali.

Demikianlah yang dapat saya berikan kepada anda tentang strategi pembelajaran afektif ini. Semoga dengannya memberikan banyak manfaatnya untuk anda sekalian. Sekian, semoga beberapa ulasan di atas dapat memberikan banyak manfaat untuk anda.

Metode Pembelajaran PKN

Pendidikan kewarganegaraan merupakan sebuah pelajaran wajib yang diberikan kepada setiap peserta didik di sekolah. Pembelajaran mata pelajaran ini memiliki tujuan utama yakni memberikan pengetahuan kepada setiap peserta didik mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kewarganegaraan. Tentunya sebagai warga negara yang baik maka setiap peserta didik harus bisa menghayati setiap apa yang disampaikan oleh tenaga pendidiknya terkait dengan materi pembelajaran ini. Dengan demikian pembelajaran ini merupakan sebuah pembelajaran yang teramat penting untuk diperhatikan namun sayangnya hal tersebut bertolakbelakang dengan minat yang dimiliki oleh para peserta didik. Banyak di antara peserta didik yang tidak menyukai dan menghayati pelajaran ini, sehingga hasilnya mereka hanya menghafal saja tanpa mengamalkan ilmu kewarganegaraan yang baik dalam kehidupan keseharian. Melihat kenyataan tersebut maka diperlukan sebuah cara atau metode yang harus digunakan agar pembelajaran PKN di sekolah ini menjadi lebih efektif dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ada beberapa metode yang dapat digunakan oleh tenaga pendidik dalam menyampaikan mata pelajaran PKN ini agar menjadi mata pelajaran yang disenangi oleh peserta didik di antaranya.

  1. Metode pembelajaran berbasis kerjasama. Tenaga pendidik dapat memberikan tugas-tugas berbasis kerjasama kepada para kelompok kepada peserta didik yang berkaitan dengan materi PKN. Dengan hal ini maka hal tersebut akan membuat mereka terbiasa untuk menyelesaikan sebuah permasalahan secara kerjasama dengan menggunakan prinsip musyawarah.
  2. Metode pembelajaran berbasis studi kasus. Para tenaga pendidik dapat memberikan tugas untuk melakukan studi kasus terhadap para peserta didik. Hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan empati mereka terhadap apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Sehingga dengan demikian jika hal ini dibiasakan maka akan menciptakan pribadi-pribadi yang peduli dan peka terhadap setiap kejadian yang terdapat di sekitarnya yang berkaitan dengan pelajaran kewarganegaraan.
  3. Metode pembelajaran berbasis proses pun baik untuk diberikan pada saat pembelajaran PKN. Dalam hal ini para peserta didik sebaiknya diarahkan untuk melakukan pengamatan langsung terhadap lingkungannya yang kemudian mereka melakukan penelitian. Dengan cara semacam ini maka pelajaran PKN dapat diamalkan dalam kehidupan para peserta didik.

Demikianlah ulasan yang dapat saya sampaikan di sini. Semoga beberapa hal di atas dapat memberikan manfaat bagi anda sekalian.

1/26/2017

Penelitian Tindakan Kelas - Tahapan PTK

Penelitian Tindakan Kelas - Tahapan PTK
Penelitian Tindakan Kelas - Tahapan PTK

Muhammad Faiq Dzaki

Ada beberapa ahli yang mengemukakan model penelitian tindakan kelas seperti dinyatakan sebelumnya, namun secara garis besar terdapat empat tahapan yang lazim dilalui, yaitu tahap: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Namun perlu diketahui bahwa tahapan pelaksanaan dan pengamatan sesungguhnya dilakukan secara bersamaan. Adapun model dan penjelasan untuk masing-masing tahap adalah sebagai berikut.

Tahap 1: Perencanaan tindakan
Dalam tahap ini peneliti menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, di mana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan. Penelitian tindakan yang ideal sebetulnya dilakukan secara berpasangan antara pihak yang melakukan tindakan dan pihak yang mengamati proses jalannya tindakan (apabaila dilaksanakan secara kolaboratif). Cara ini dikatakan ideal karena adanya upaya untuk mengurangi unsur subjektivitas pengamat serta mutu kecermatan amatan yang dilakukan. Bila dilaksanakan sendiri oleh guru sebagai peneliti maka instrumen pengamatan harus disiapkan disertai lembar catatan lapangan. Yang perlu diingat bahwa pengamatan yang diarahkan pada diri sendiri biasanya kurang teliti dibanding dengan pengamatan yang dilakukan terhadap hal-hal yang berada di luar diri, karena adanya unsur subjektivitas yang berpengaruh, yaitu cenderung mengunggulkan dirinya. Dalam pelaksanaan pembelajaran rencana tindakan dalam rangka penelitian dituangkan dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

Tahap 2: Pelaksanaan Tindakan
Adalah pelaksanaan, yaitu implementasi atau penerapan isi rencana tindakan di kelas yang diteliti. Hal yang perlu diingat adalah bahwa dalam tahap 2 ini pelaksana guru harus ingat dan berusaha mentaati apa yang sudah dirumuskan dalam rencana tindakan, tetapi harus pula berlaku wajar, tidak kaku dan tidak dibuat-buat. Dalam refleksi, keterkaitan antara pelaksanaan dengan perencanaan perlu diperhatikan.

Tahap 3: Pengamatan terhadap tindakan
Yaitu kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh pengamat (baik oleh orang lain maupun guru sendiri). Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa kegiatan pengamatan ini tidak terpisah dengan pelaksanaan tindakan karena pengamatan dilakukan pada waktu tindakan sedang dilakukan. Jadi keduanya berlangsung dalam waktu yang sama. Sebutan tahap 2 dan 3 dimaksudkan untuk memberikan peluang kepada guru pelaksana yang berstatus juga sebagai pengamat, yang mana ketika guru tersebut sedang melakukan tindakan tentu tidak sempat menganalisis peristiwanya ketika sedang terjadi. Oleh karena itu kepada guru pelaksana yang berstatus sebagai pengamat ini untuk melakukan "pengamatan balik" terhadap apa yang terjadi ketika tindakan berlangsung. Sambil melakukan pengamatan balik ini guru pelaksana mencatat sedikit demi sedikit apa yang terjadi.

Tahap 4: Refleksi terhadap tindakan
Merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah dilakukan. Istilah "refleksi" dari kata bahasa Inggris reflection, yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia pemantulan. Kegiatan refleksi ini sebetulnya lebih tepat dikenakan ketika guru pelaksana sudah selesai melakukan tindakan, kemudian berhadapan dengan peneliti untuk mendiskusikan implementasi rancangan tindakan. Inilah inti dari penelitian tindakan, yaitu ketika guru pelaku tindakan mengatakan kepada peneliti pengamat tentang hal-hal yang dirasakan sudah berjalan baik dn bagian mana yang belum. Apabila guru pelaksana juga berstatus sebagai pengamat, maka refleksi dilakukan terhadap diri sendiri. Dengan kata lain guru tersebut melihat dirinya kembali, melakukan "dialog" untuk menemukan hal-hal yang sudah dirasakan memuaskan hati karena sudah sesuai dengan rancangan dan mengenali hal-hal yang masih perlu diperbaiki. Dalam hal seperti ini maka guru melakukan ”self evaluation” yang diharapkan dilakukan secara obyektif. Untuk menjaga obyektifitas tersebut seringkali hasil refleksi ini diperiksa ulang atau divalidasi oleh orang lain, misalnya guru/teman sejawat yang diminta mengamati, ketua jurusan, kepala sekolah atau nara sumber yang menguasai bidang tersebut. Jadi pada intinya kegiatan refleksi adalah kegiatan evaluasi, analisis, pemaknaan, penjelasan, penyimpulan dan identifikasi tindak lanjut dalam perencanaan siklus selanjutnya.

Keempat tahap dalam penelitian tindakan tersebut adalah unsur untuk membentuk sebuah siklus, yaitu satu putaran kegiatan beruntun, dari tahap penyusunan rancangan sampai dengan refleksi, yang tidak lain adalah evaluasi. Apabila dikaitkan dengan "bentuk tindakan" sebagaimana disebutkan dalam uraian ini, maka yang dimaksud dengan bentuk tindakan adalah siklus tersebut. Jadi bentuk penelitian tindakan tidak pernah merupakan kegiatan tunggal tetapi selalu berupa rangkaian kegiatan yang akan kembali ke asal, yaitu dalam bentuk siklus.

Sumber: Penelitian Tindakan Kelas, DR. Sulipan, M.Pd.

Makalah PTK dari Jurnal Ilmiah:
Laporan PTK: Pendekatan Realistik Matematika SD
Laporan PTK: Mata Pelajaran Bahasa Indonesia SMP
Laporan PTK: Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI
Laporan PTK Mata Pelajaran Bahasa Inggris: Directed Accelerated Reading (DRA)
Laporan PTK tentang Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT
Laporan PTK tentang Lesson Study 

Beberapa artikel tentang penelitian tindakan kelas:

1/02/2017

Penelitian Tindakan Kelas – Jenis-Jenis PTK

Penelitian Tindakan Kelas – Jenis-Jenis PTK
Penelitian Tindakan Kelas – Jenis-Jenis PTK

Terdapat empat jenis Penelitian Tindakan Kelas, yaitu :
¨ Jenis Diagnostik maksudnya penelitian dilakukan untuk menuntun peneliti ke arah suatu tindakan karena suatu masalah yang terjadi, misalnya adanya konflik antar siswa di kelas, adanya pertengkaran di antara siswa dan sejenisnya.
¨ Jenis Partisipan maksudnya penelitian dilakukan dengan keterlibatan langsung peneliti dari awal sampai akhir proses.
¨ Jenis Empirik maksudnya penelitian dilakukan dengan cara merencanakan, mencatat pelaksanaan dan mengevaluasi pelaksanaan dari luar arena kelas, jadi dalam penelitian jenis ini peneliti harus berkolaborasi dengan guru yang melaksanakan tindakan di kelas.
¨ Jenis Eksperimental maksudnya penelitian dilakukan sebagai upaya menerapkan berbagai teknik, metode atau strategi dalam pembelajaran secara efektif dan efisien.

Sumber: Penelitian Tindakan Kelas, DR. Sulipan, M.Pd.

Makalah PTK dari Jurnal Ilmiah:
Laporan PTK: Pendekatan Realistik Matematika SD
Laporan PTK: Mata Pelajaran Bahasa Indonesia SMP
Laporan PTK: Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI
Laporan PTK Mata Pelajaran Bahasa Inggris: Directed Accelerated Reading (DRA)
Laporan PTK tentang Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT
Laporan PTK tentang Lesson Study

Beberapa artikel tentang penelitian tindakan kelas:

Hasil Penelitian dan Pembahasan - Penelitian Tindakan Kelas

Hasil Penelitian dan Pembahasan - Penelitian Tindakan Kelas
Penelitian Tindakan Kelas – Hasil Penelitian dan Pembahasan


Di dalam sebuah laporan penelitian, maka bagian yang memaparkan tentang hasil penelitian merupakan inti dari laporan tersebut. Untuk itu dalam penelitian tindakan kelas bagian tersebut harus menjadi perhatian utama karena sederet apapun latar belakang masalah, berbaris-baris landasan teori dan uraian metodologi penelitian, tidak akan ada artinya tanpa paparan hasil
penelitian yang kemudian dibahas atau dianalisis untuk selanjutnya disimpulan,

Saat memberikan paparan hasil penelitian, pertama kali harus diuraikan tentang latar penelitian yang meliputi di mana dan kapan penelitian dilakukan, sehingga pembaca dibawa ke suasana di mana penelitian dilakukan. Kalau perlu bagian ini dilengkapi dengan foto sekolah dan kelas di mana penelitian di lakukan.

Kemudian, laporkan langkah-langkah demi langkah yang dilakukan tiap siklus mulai dari perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, bagaimana pengamatan dilakukan dan hasil refleksi yang telah dilakukan.

Demikian pula halnya, urutan kegiatan sebagaimana telah dituliskan dalam tabel kisi-kisi indikator proses harus diuraikan sehingga jelas apa tindakannya dan bagaimana tindakan itu dilakukan.

Di dalam laporan, dengan berdasarkan refleksi siklus pertama, maka harus jelas pula upaya apa yang dilakukan untuk memperbaiki tindakan yang akan dilaksanakan pada siklus ke dua dan seterusnya.

Jadi harus jelas perbedaan urutan kegiatan pada siklus pertama dan kedua sebagai wujud ”perbaikan tindakan pertama”, kalau perlu uraikan keunggulan dari tindakan yang dilakukan pada siklus kedua dibandingkan dengan tindakan pada siklus pertama.

Sumber: Penelitian Tindakan Kelas, DR. Sulipan, M.Pd.

Beberapa artikel tentang penelitian tindakan kelas: