3/13/2016

Laporan Penelitian: Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT

Laporan Penelitian: Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT BERBASIS MULTIMEDIA DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI DAN INFORMASI

Nopiyanti
Dr, Dedi Rohendi, MT.
Drs. Heri Sutarno, MT.

Pendidikan Ilmu Komputer FPMIPA UPI

ABSTRAK
Teams Games Tournament (TGT) [2] adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar yang beranggotakan 5 sampai 6 siswa sehingga bekerja dalam kelompok. Pembelajaran disertai dengan adanya permainan akademik untuk memastikan setiap anggota kelompok menguasai pelajaran yang diberikan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimental-semu atau quasi-experimental research. Data dikumpulkan melalui instrumen tes yang berbentuk pilihan ganda. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji T. Penelitian ini dilakukan pada sampel yang terdiri dari dua kelas masing-masing berjumlah 38 orang, yaitu kelas VIII-E
sebagai kelas eksperimen yang diberi pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) berbasis multimedia dan kelas VIII-G sebagai kelas kontrol yang diberi pembelajaran konvensional berbasis multimedia. Dari hasil eksperimen, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar peserta didik dalam mata pelajaran TIK dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif TGT berbasis multimedia lebih baik secara signifikan dibandingkan dengan menggunakan model pembelajaran konvensional berbasis multimedia.

Kata Kunci: multimedia, cooperative learning, teams games tournament, matapelajaran teknologi informasi dan komunikasi

1. PENDAHULUAN
Sistem pendidikan dewasa ini telah mengalami kemajuan yang sangat pesat. Berbagai cara telah dikenalkan serta digunakan dalam proses belajar mengajar dengan harapan pengajaran guru akan lebih berkesan dan pembelajaran bagi murid akan lebih bermakna. Sejak beberapa tahun belakangan ini teknologi informasi dan komunikasi telah banyak digunakan dalam proses belajar mengajar, dengan harapan mutu pendidikan akan selangkah lebih maju seiring dengan kemajuan teknologi. Perkembangan teknologi multimedia telah menjanjikan potensi besar dalam mengubah cara seseorang untuk belajar, untuk memperoleh informasi, menyesuaikan informasi dan sebagainya. Multimedia juga menyediakan peluang bagi pendidik untuk mengembangkan teknik pembelajaran sehingga menghasilkan hasil yang maksimal. Demikian juga
bagi pelajar, dengan multimedia diharapkan mereka akan lebih mudah untuk menentukan dengan apa dan bagaimana siswa dapat menyerap informasi secara cepat dan efisien.

Kemampuan teknologi multimedia yang telah terhubung internet akan semakin menambah kemudahan dalam
mendapatkan informasi yang diharapkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah
hasil belajar peserta didik menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT berbasis multimedia lebih
baik dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional berbasis multimedia.



2. TGT (Teams Games Tournament)
Menurut Slavin [3] TGT terdiri dari 5 langkah tahapan yaitu: tahap penyajian kelas (class precentation), belajar dalam kelompok (teams), permainan (games), pertandingan (tournament), dan perhargaan kelompok
( team recognition). TGT [2] adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar yang beranggotakan 5 sampai 6 orang siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin dan suku kata atau ras yang berbeda. Dengan adanya heterogenitas anggota kelompok,
diharapkan dapat memotifasi siswa untuk saling membantu antar siswa yang berkemampuan lebih dengan siswa yang berkemampuan kurang dalam menguasai materi pelajaran. Guru menyajikan materi, dan siswa bekerja dalam kelompok mereka masing-masing. Dalam kerja kelompok guru memberikan LKS kepada setiap kelompok. Tugas yang diberikan dikerjakan bersama-sama dengan anggota kelompoknya. Apabila ada dari anggota kelompok yang tidak mengerti dengan tugas yang diberikan, maka anggota kelompok yang lain bertanggungjawab untuk memberikan jawaban atau menjelaskannya, sebelum mengajukan pertanyaan tersebut kepada guru. Hal ini akan menyebabkan tumbuhnya rasa kesadaran pada diri siswa bahwa belajar
secara kooperatif itu menyenangkan.

Untuk memastikan bahwa seluruh anggota kelompok telah menguasai pelajaran, maka seluruh siswa akan diberikan permainan akademik. Dalam permainan akademik siswa akan dibagi dalam meja-meja turnamen, dimana setiap meja turnamen terdiri dari 5 sampai 6 orang yang merupakan wakil dari kelompoknya masing-masing. Dalam setiap meja permainan diusahakan agar tidak ada peserta yang berasal dari kelompok yang sama. Siswa dikelompokkan dalam satu meja turnamen secara homogen dari segi kemampuan akademik, artinya dalam satu meja turnamen kemampuan setiap peserta diusahakan agar setara.

Permainan ini diawali dengan memberitahukan aturan permainan. Setelah itu permainan dimulai dengan
membagikan kartu-kartu soal untuk bermain (kartu soal dan kunci ditaruh terbalik di atas meja sehingga soal dan kunci tidak terbaca). Permainan pada tiap meja turnamendilakukan dengan aturan sebagai berikut. Pertama, setiap pemain dalam tiap meja menentukan dulu pembaca soal dan pemain yang pertama dengan cara undian. Kemudian pemain yang menang undian mengambil kartu undian yang berisi nomor soal dan diberikan kepada pembaca soal. Pembaca soal akan membacakan soal sesuai dengan nomor undian yang diambil oleh pemain. Selanjutnya soal dikerjakan secara mandiri oleh pemain dan penantang sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dalam soal. Setelah waktu untuk mengerjakan soal selesai, maka pemain akan
membacakan hasil pekerjaannya yang akan ditangapi oleh penantang searah jarum jam.

Setelah itu pembaca soal akan membuka kunci jawaban dan skor hanya diberikan kepada pemain yang menjawab benar atau penantang yang pertama kali memberikan jawaban benar. Jika semua pemain menjawab salah maka kartu dibiarkan saja. Permainan dilanjutkan pada kartu soal berikutnya sampai semua kartu soal habis dibacakan, dimana posisi pemain diputar searah jarum jam agar setiap peserta dalam satu meja turnamen dapat berperan sebagai pembaca soal, pemain, dan penantang. Disini permainan dapat dilakukan berkali-kali dengan syarat bahwa setiap peserta harus mempunyai kesempatan yang sama sebagai pemain, penantang dan pembaca soal. Dalam permainan ini pembaca soal hanya bertugas untuk membaca
soal dan membuka kunci jawaban, tidak boleh ikut menjawab atau memberikan jawaban pada peserta lain.
Setelah semua kartu selesai terjawab, setiap pemain dalam satu meja menghitung jumlah kartu yang diperoleh dan menentukan berapa poin yang diperoleh berdasarkan tabel yang telah disediakan. Selanjutnya setiap pemain kembali kepada kelompok asalnya dan melaporkan poin yang diperoleh. Ketua kelompok memasukkan poin yang diperoleh anggota kelompoknya pada tabel yang telah disediakan, kemudian menentukan kriteria penghargaan yang diterima oleh kelompoknya.

Skor yang diperoleh setiap peserta dalam permainan akademik dicatat pada lembar pencatat skor. Skor kelompok diperoleh dengan menjumlahkan skor-skor yang diperoleh anggota suatu kelompok, kemudian dibagi banyaknya anggota kelompok tersebut. Skor kelompok ini digunakan ......baca selengkapnya dari sumber aslinya.

11/08/2015

Penelitian Pre Ekperimental tentang Pemanfaatan Media Kartu Hitung pada Mata Pelajaran Matematika di SD

Penelitian Pre Ekperimental tentang Pemanfaatan Media Kartu Hitung pada Mata Pelajaran Matematika di SD

Pengaruh Pemanfaatan Media Permainan Kartu Hitung Terhadap Hasil Belajar Siswa Materi Ajar Operasi Hitung Campuran Mata Pelajaran Matematika Kelas Iii Sdn Babat Jerawat I Surabaya


Zuhrotul Komariyah dan, Soeparno
Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Surabaya
Kampus Lidah Wetan

Sumber Jurnal: 

Jurnal Teknologi Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya Volume 10 No. 1 April 2010, halaman 63 - 73.

Abstrak:

Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang dianggap abstrak dan imajinatif, sehingga dalam proses pembelajarannya guru dituntut untuk kreatif dalam memanfaatkan media pembelajaran. Pada studi pendahuluan ditemukan permasalahan bahwa guru dalam mengajar hanya menggunakan buku teks, sehingga siswa mengalami kejenuhan dalam belajar matematika. Kondisi yang demikian berdampak pada hasil belajar siswa yang menurun, sehingga peneliti mencoba mengatasi permasalahan tersebut dengan memanfaatkan media permainan kartu hitung .Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana proses pemanfaatan media permainan kartu hitung dan untuk mengetahui adakah pengaruh yang signifikan antara pemanfaatan media permainan kartu hitung dengan peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika kelas III SDN Babat Jerawat I Surabaya.Hasil dari analisis observasi yang telah dilakukan, diketahui bahwa proses pemanfaatan media permainan kartu hitung dengan sumber data guru diperoleh hasil sebesar 84%, jika hasil tersebut dikonsultasikan dengan kriteria maka tergolong baik sekali. Untuk data hasil observasi proses pemanfaatan media permainan kartu hitung dengan sumber data siswa diperoleh hasil sebesar 82, 5 %, jika hasil tersebut dikonsultasikan dengan kriteria maka tergolong baik sekali. Sedangkan uji hasil tes diperoleh t hitung 14, 53 dengan db = 40 – 1 = 39 dan taraf signifikan 5 % maka diperoleh t tabel 2, 021. Dari perhitungan tersebut diketahui bahwa t hitung lebih besar dari t tabel yaitu 14, 53 > 2, 021. Maka data ini menunjukkan bahwa pemanfaatan media permainan kartu hitung dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika pokok bahasan operasi hitung campuran kelas III SDN Babat Jerawat I Surabaya.

Kata Kunci: Pemanfaatan media permainan kartu hitung, hasil belajar


1. Pendahuluan

Matematika merupakan pelajaran yang sangat sulit, meskipun ada yang menyenangi pelajaran itu. Segala cara dan usaha dilakukan untuk dapat mewujudkan adanya pemahaman belajar yang baik pada mata pelajaran matematika. Banyak usaha yang dilakukan oleh orang tua untuk membantu putra-putrinya agar mampu menguasai operasi berhitung. Misalnya, mengikut sertakan putra-putrinya mengikuti bimbingan belajar di sekolah, mendatangkan guru privat di rumah, dan mengikutkan bimbingan di tempat kursus. Agar siswa dapat menerima dan memahami operasi berhitung dengan baik, maka diperlukan usaha untuk menarik perhatian siswa, salah satunya adalah dengan cara memanipulasi suasana pembelajaran dan media pembelajaran. Dengan menerapkan pembelajaran yang menarik maka siswa akan giat dalam belajar, sehingga kegiatan belajar yang diharapkan akan muncul dan mencapai hasil yang baik pula.....................Baca selengkapnya makalah ini sebagaimana aslinya di sini.

11/06/2015

Penelitian Eksperimental : Kecerdasan Emosi dan Character Building

Penelitian Eksperimental : Kecerdasan Emosi dan Character Building

Character Building : Pengaruh Pendidikan Nilai Terhadap Kecerdasan Emosi Anak


Oleh:
Eny Purwandari dan Purwati

Fakultas Psikologi
Universitas Muhammadiyah Surakarta
Jalan A. Yani Tromol Pos I Surakarta 57102

Sumber Jurnal:

Jurnal Penelitian Humaniora, Volume 9 No. 1Februari 2008, hal 13 - 31, Universitas Muhammadiyah Surakarta.
http://lppm.ums.ac.id

Sebagian isi jurnal:


Fenomena di sekitar kita dapat disaksikan, banyak anak yang menjadi subjek maupun objek kekerasan, masalah-masalah sosial dan berkurangnya sikap saling menghargai antarmanusia dan terhadap lingkungan sekitar. Pendidik dan orang tua ingin mengubah kondisi yang memprihatinkan ini dengan pendidikan nilai. Kemorosotan akhlak dan moral perlu segera mendapat penanganan yang serius, baik oleh orang tua, guru, maupun lembaga pendidikan yang ikut bertanggung jawab memberi pendidikan dengan proses dan model pembelajaran yang ditawarkan. Salah satu alternatif yang dapat ditawarkan adalah pendidikan nilai dengan metode character building.

Anak yang mendapat kesempatan untuk berkembang dalam lingkungan yang kaya variasi akan menjadi anak yang tanggap dan selalu siap dengan alternatif lain yang diamati dri lingkungannya, sehingga membantu anak untuk mengoptimalkan perkembangan fisik dan mentalnya, serta memenuhi kebutuhan kognisi, afeksi, dan psikomotorik. Anak yang dibesarkan pada suasana dan sikap yang monoton sulit diharapkan untuk mampu tanggap dan siap dengan pilihan-pilihan dan cara-cara lain untuk memecahkan masalah. Dengan demikian, kecerdasan emosi anak perlu mendapat perhatian serius untuk membentuk generasi yang berkualitas. Kecerdasan emosi dapat diasah, diolah, dan dibentuk dengan pendidikan nilai. Pendidikan nilai yang akan dikemas dalam bentuk character building dapat meningkatkan kecerdasan emosi anak. Pendidikan nilai disajikan pada anak dengan suasana yang tidak monoton, sesuai dengan tahap perkembangan dan karakteristik anak.

Kecerdasan emosi merupakan suatu konsep baru yang sampai saat ini belum ada definisi yang baku yang menerangkan. Telaah mengenai arti kecerdasan emosional biasanya terkait dengan kemampuan seseorang dalam menggunakan aspek pikiran dan emosi untuk memecahkan berbagai masalah dalam kehidupannya (Secapramana, 1999).

Salovey dan Mayer (dalam Skapiro, 1988) sebagai pencetus istilah kecerdasan emosional mengungkapkan bahwa kecerdasan emosional merupakan himpunan bagian dari keterampilan sosial yang melibatkan kemampuan memantau dan mengendalikan perasaan dan emosi, baik pada diri sendiri maupun orang lain, memilahmilah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan.

Salovey dan Mayer (1990) menerangkan bahwa kualitas-kualitas emosional yang penting bagi keberhasilan, di antaranya adalah empati, mengungkapkan dan memahami perasaan, mengendalikan amarah, kemandirian, kemampuan memecahkan masalah pribadi, ketekunan, kesetiakawanan, keramahan, dan sikap hormat (Shapiro, 1999).

Goleman (2000) mengartikan kecerdasan emosional sebagai kemampuan untuk mengenali perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dalam hubungannya dengan orang lain. Kecerdasan emosional dalam pengertian Goleman (dalam Rostiana, 1997) tampaknya lebih ditujukan pada upaya mengenali, memahami, dan mewujudkan emosi dalam porsi yang tepat. Hal lain yang juga penting dalam kecerdasan emosional ini adalah upaya untuk mengelola emosi agar terkendali dan dapat dimanfaatkan untuk memecahkan masalah kehidupan terutama yang terkait dengan hubungan antarmanusia.

Reuven Baron (dalam Goleman, 2000) berpendapat bahwa kecerdasan emosional adalah serangkaian kemampuan pribadi, emosi, dan sosial yang mempengaruhi seseorang untuk berhasil dalam mengatasi tuntutan dan tekanan lingkungan. Berbagai penelitian dalam bidang psikologi telah membuktikan bahwa orang-orang dengan kecerdasan emosional tinggi adalah orang-orang yang dapat menguasai gejolak emosi, menjalin hubungan yang baik dengan orang lain, mampu mengelola stress dan memiliki kesehatan mental yang baik (Pertiwi, dkk., 1997). Menurut Shapiro (1999) kecerdasan emosional sangat berhubungan dengan berbagai hal yaitu perilaku moral, cara berpikir yang realistis, pemecahan masalah, interaksi sosial, emosi diri, dan keberhasilan, baik secara akademik maupunpekerjaan. Di pihak lain, Secapramana (1999) mengemukakan kecerdasan emosional merupakan kemampuan untuk mengenali, mengolah dan mengontrol emosi agar.................

Selengkapnya makalah ini dapat dilihat sini sebagaimana aslinya

laporan PTK: Matematika Realistik pada Anak Tunagrahita

laporan PTK: Matematika Realistik pada Anak Tunagrahita

Peningkatan Kualitas Pembelajaran Penjumlahan dan Pengurangan Melalui Pembelajaran Matematika Realistik Pesrta Didik Tunagrahita Ringan SLB Pembina Malang

Oleh:
Dwi Retno Palupi
Guru Matematika MTs Al Ma’arif 01Singosari Malang

Sumber Jurnal:

Jurnal Pendidikan Matematika, Universitas Muhammadiyah Malang, Februari, halaman 1 - 11.

Sebagian isi jurnal:

Pembelajaran matematika realistik efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran peserta didik tunagrahita ringan meliputi peningkatan pemahaman konsep, peningkatan kemampuan penjumlahan dan pengurangan, dan peningkatan aktivitas peserta didik. Pembelajaran matematika realistik mampu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan terjadi interaksi positif antar guru dengan peserta didik maupun peserta didik dengan peserta didik. Temuan ini sejalan dengan pandangan Vygotsky dalam Berk (2003) bahwa pembelajaran anak tunagrahita harus mempertimbangkan situasi sosial dimana mereka berada dan pembelajarannya secara termediasi (mediated learning). Selanjutnya, kualitas lingkungan belajar dan kualitas interaksi antara guru dengan peserta didik maupun peserta didik dengan peserta didik sangat membantu peserta didik dalam mengaktualisasikan perkembangan potensial peserta didik yang disebut Zone of proximal development. Hal ini juga sesuai saran model pembelajaran peserta didik tunagrahita Astati (2005) bahwa model interaksi perlu yakni menekankan terjadinya pembelajaran sebagai suatu interaksi anak dengan orang lain.

Satu lagi hal yang penting untuk melakukan penelitian mengenai pembelajaran matematika realistik adalah mengupayakan dalam satu kali pembelajaran bisa merangsang meningkatnya semua aspek hambatan fisik, sosial, emosi, dan intelektual peserta didik tunagrahita. Hal ini sejalan dengan pendapat Astati (2005) hendaknya model pembelajaran peserta didik tunagrahita sentuhannya mengembangkan seluruh aspek individu seperti aspek fisik, intelektual, sosial, dan emosi dalam sekali pertemuan.

Strategi yang digunakan

Proses pembelajaran dalam penelitian ini dilakukan dengan tiga tahapan yaitu tahap awal, tahap inti, tahap akhir.
1. Tahap awal lebih ditekankan pada memotivasi peserta didik bahwa materi yang akan dipelajari lekat dengan pengalaman mereka. Dalam hal ini, sebelumnya peneliti membawa peserta didik berbelanja di koperasi sekolah dan Alfamart. Dengan bekerja sama dengan kasir maka peserta didik diberi pertanyaan-pertanyaan seputar penjumlahan dan pengurangan uang. Selain itu pada tahap awal guru harus mengecek secara detail kemampuan prasyarat setiap individu untuk mengetahui kemampuan dan hambatan tiap peserta didik, dan untuk mengetahui pengetahuan awal dilakukan tes diagnostik awal.
2. Tahap inti dimana terjadi proses mengkonstruksi pengalaman baru (bahan ajar) dan merekonstruksi pengalaman pada kognitif peserta didik. Pada tahap ini menurut Piaget (Suparno, 2001) terjadi apa yang disebut proses akomodasi yang menandakan bahwa telah terjadi perkembangan kognitif......................Baca selengkapnya makalah ini sebagaimana aslinya di sini.

Evaluasi Pendidikan Jasmani Dalam Pendekatan Portofolio

Evaluasi Pendidikan Jasmani Dalam Pendekatan Portofolio

Evaluasi Pendidikan Jasmani Dalam Pendekatan Portofolio

Oleh: 
Andun Sudijandoko

Sumber Jurnal: 

Jurnal Pelangi Ilmu, Universitas Negeri Surabaya Volume 2 Nomor 2 Juli - Desember 2008, halaman 1 - 11.

Abstrak:

Evaluasi adalah istilah yang bukan merupakan hal yang asing bagi setiap guru pendidikan jasmani di sekolah. Bagi seorang guru tentu mengetahui dan sangat menyadari bahwa evaluasi harus selalu dilakukan, agar dapat selalu mengetahui kemajuan belajar siswa. Pelaksanaan evaluasi ini akan dapat dilaksanakan lebih baik, apabila guru sangat memahami akan makna dan fungsi dari sebuah evaluasi tersebut. Sebagai guru mata pelajaran pendidikan jasmani, mendapatkan manfaat yang sangat banyak disaat para guru tersebut melaksanakan evaluasi secara baik, manfaat tersebut antara lain: (1) Evaluasi memungkinkan guru lebih terampil dan cermat dalam menafsirkan kemajuan hasil belajar siswa. (2) Evaluasi akan memberi umpan balik bagi keberhasilan suatu program. (3) Evaluasi akan meningkatkan pengakuan pihak luar terhadap manfaat Pendidikan Jasmani. (4) Evaluasi dapat dijadikan ukuran keberhasilan guru dalam mengajar (PBM). Evaluasi dalam pendekatan portofolio, adalah kumpulan hasil kerja siswa untuk suatu tujuan tertentu, yang menggambarkan upaya, kemajuan, dan prestasi siswa dalam bidang tertentu. Proses pengumpulan harus melibatkan partisipasi siswa, terutama dalam menentukan materi, petunjuk pemilihan, kriteria penilaian dan bukti-bukti refleksi diri siswa. Instrumen yang digunakan berupa lembar kerja, laporan siswa, karya siswa dan lain-lain. Aspek yang dinilai sebaiknya mencerminkan aspek pengetahuan, aspek kebugaran siswa, prestasi kecabangan (Bukan teknik dasar dan prestasi olahraga). Aspek-aspek ini dijabarkan dalam indikator penilaian.

Kata Kunci: Evaluasi pendidikan jasmani dalam pendekatan portofolio

1. Kedudukan dan Prinsip Dasar Evaluasi

a. Kedudukan Evaluasi Dalam Proses Belajar Mengajar (PBM)
Peningkatan mutu proses belajar mengajar (PBM) merupakan problematik yang sangat penting dalam pendidikan jasmani di sekolah. Istilah belajar, lebih sering menitikberatkan atau menekankan pada aktivitas siswa, sedangkan istilah mengajar, lebih menekankan pada aktivitas guru. Namun titik sentral proses belajar mengajar adalah siswa belajar......................Baca selengkapnya makalah ini sebagaimana aslinya di sini.

Laporan PTK : Model Pembelajaran Kooperatif TAI

Laporan PTK : Model Pembelajaran Kooperatif TAI
Catatan: Makalah ini dipublikasikan di blog ini dengan tujuan untuk meningkatkan kemudahan para pendidik untuk memperolehnya dengan lebih banyak terindeks pada search engine. Makalah ini sepenuhnya bukan milik saya. Bila Anda pemilik makalah ini dan merasa bahwa tidak semestinya makalah ini diterbitkan di http://www.informasipendidikan.net, silakan menghubungi saya di sini, maka dengan senang hati saya akan menghapus konten ini. Terimakasih (admin).

PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TAI (Team Assisted Individualization) DILENGKAPI MODUL DAN PENILAIAN PORTOFOLIO UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR PENENTUAN DH REAKSI SISWA SMA KELAS XI SEMESTER I

Oleh : Sri Retno Dwi Ariani, Bakti Mulyani dan Fema Yulianingrum
Prodi Kimia P. MIPA FKIP
Universitas Sebelas Maret Surakarta
Jl. Ir. Sutami 36 A, Surakarta

Abstract : The aim of this research was to improve the achievement of student in the determination of ÄH reaktion subject with TAI (Team Assisted Individualization), then completed with module and portofolio assesment. The subject of this experiment was the student grade XI-IA1 SMA Negeri Karangpandan Karanganyar Central Java 2007/2008. This research was a Classroom Action Research (CAR) conducted into two cycles. The steps of each cycle were planning, acting, observing and reflecting. The data were received from observing, interviewing with teacher, researching the difficulty study in chemistry and the student response of chemistry study. This experiment used descriptive qualitative method. The result of the experiment approved that the use of study with TAI method teaching that completed with module and portofolio assesment could improve the achievement of student in the determination of ÄH reaktion subject. This can be proved from initial test, the first cycle and the second cycle. On the initial test the student ability to accomplish the test is about 32% in average and increase to 50.0 % in the first cycle and 66.0 % in the second cycle. The completion of study in initial test was 0.0 %, to increase 37.0 % in the first cycle and 72.0% in the second cycle.

Keywords: Team Assisted Individualization, Classroom Action Research module, and portofolio

Pendahuluan
Sistem pendidikan nasional dewasa ini menunjukkan perkembangan yang cukup pesat seiring dengan era globalisasi. Pendidikan mempunyai peran penting dalam perkembangan dan kelangsungan kehidupan bangsa. Pendidikan sebagai proses belajar bertujuan untuk mengembangkan seluruh potensi yang ada pada diri siswa secara optimal, baik kognitif, afektif, maupun psikomotorik.

Upaya peningkatan mutu pendidikan telah lama dilakukan, salah satunya adalah dengan mengadakan
perombakan dan pembaharuan kurikulum yang berkesinambungan, mulai dari kurikulum...............baca selengkapnya makalah tentang Laporan PTK model pembelajaran kooperatif TAI ini langsung dari sumber aslinya.

6/22/2015

Laporan Penelitian: Pengaruh Metode Hypnoteching Terhadap Hasil Belajar Siswa

Laporan Penelitian: Pengaruh Metode Hypnoteching Terhadap Hasil Belajar Siswa
Catatan: Makalah ini dipublikasikan di blog ini dengan tujuan untuk meningkatkan kemudahan para pendidik untuk memperolehnya dengan lebih banyak terindeks pada search engine. Makalah ini sepenuhnya bukan milik saya. Bila Anda pemilik makalah ini dan merasa bahwa tidak semestinya makalah ini diterbitkan, silakan menghubungi saya, maka dengan senang hati saya akan menghapus konten ini. Terimakasih (admin).

Judul Penelitian:
PENGARUH METODE HYPNOTEACHING TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS V SD NEGERI BEGALON II NO.241 SURAKARTA TAHUN 2011/2012

Jenis Penelitian :
FREE EXPERIMENTAL DESIGN berbentuk ONE GROUP PRE TEST POST TEST DESIGN

Peneliti:
RUDY ARYANTO

Download Bagian-Bagian Laporan Penelitian Free Experimental Design : One Group Pre Test - Post Test Design ini:
Link HALAMAN DEPAN
Link Bab I
Link Bab II (hanya untuk staf UMS)
Link Bab III (hanya untuk staf UMS)
Link Bab IV (hanya untuk staf UMS)
Link Bab V (hanya untuk staf UMS)
Link Daftar Pustaka
Link Lampiran (hanya untuk staf UMS)

Semoga link laporan dari sumber aslinya tentang metode hypnoteaching di SD untuk meningkat hasil belajar tersebut dapat bermanfaat.

4/11/2015

Laporan PTK: Penggunaan Kartu Tagihan

Laporan PTK: Penggunaan Kartu Tagihan

Penggunaan Kartu Tagihan Hafalan Qunut sebagai Upaya untuk Meningkatkan Hasil Belajar Fiqih Siswa Kelas 2 MI Geluran Taman Sidoarjo Tahun Pelajaran 2009/2010


Oleh:
Ofik Muhammad Taufik  (MI Tahruddin, Lamongan)

Sumber Jurnal: 

Jurnal Penelitian Tindakan Kelas Pendidikan Agama Islam Volume 01, Nomor 01, Juni 2010 Halaman 122 - 132. Jurnal Penelitian Tindakan Kelas Pendidikan Agama Islam (JPTK-PAI) diterbitkan oleh Laboratorium Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya bekerjasama dengan Madrasah Development Center (MDC) Kementerian Agama Wilayah Jawa Timur, dan Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam (AGPAI) Jawa Timur berdasarkan SK Dekan nomor: In.02/1/HK.00.5/SK/315/XII/2009 (ISSN: 2086-7239). Jurnal ini terbit dua kali setahun, dan berisi tulisan ilmiah tentang tindakan pembelajaran pendidikan agama Islam di ruang pembelajaran, baik di lingkungan madrasah, pesantren, pendidikan umum, maupun perguruan tinggi.

Abstrak:

Keberhasilan proses pembelajaran di kelas sebagian ditentukan oleh media pembelajaran. Kesiapan guru dalam mempersiapkan proses pembelajaran akan menentukan kualitas dari hasil belajar itu sendiri. Penelitian Tindakan kelas ini berangkat dari permasalahan bahwa banyak siswa-siswi kelas 2 MI Geluran Taman Sidoarjo belum hafal doa Qunut. Oleh karena itu peneliti merumuskan masalah bagaimana upaya penggunaan kartu tagihan hafalan Qunut sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar Fiqih siswa Kelas 2 MI Geluran Taman. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan kartu tagihan hafalan Qunut sebagai upaya meningkatkan hasil belajar Fiqih siswa Kelas 2 MI Geluran. Desain penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), Metode pengumpulan data menggunakan observasi, analisis masalahnya menggunakan prosentasi, menggunakan 2 siklus, hasil dari siklus pertama adalah 68% sedangkan siklus yang kedua adalah 87,5%. Oleh karena itu terjadi peningkatan hasil belajar pada mata pelajaran Fiqh dengan menggunakan media kartu tagihan hafalan Qunut ini.

Kata kunci: Kartu Tagihan, Hasil Balajar, Qunut, Fiqh, ptk


PENDAHULUAN

Pendidikan ditinjau dari tujuan dan hakekatnya secara umum dapat dimaknai sebagai suatu upaya untuk mengantarkan seorang manusia menuju kedewasaan yaitu dengan cara mengembangkan secara optimal segala potensi yang ada pada dirinya, sehingga pada akhirnya ia mendapat kepuasaan diri, bisa menyesuaikan diri dengan baik terhadap kondisi masyarakat dan lingkungannya. Pendidikan itu berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan dalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.

Proses pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah ialah melalui jalur institusi atau sekolah dan tujuan pendidikan secara nasional bermaksud dalam suatu peraturan pemerintah yaitu Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No.20 Tahun 2003 Bab II pasal 3 yang berbunyi:

‘’Tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan bentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahklak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab’’.

Sekolah adalah salah satu lembaga pendidikan yang mempunyai peranan yang sangat penting. Peranan tersebut adalah upaya menumbuhkan dan mengem-bangkan potensi anak didik ke arah lebih optimal dan aktual melalui proses belajar mengajar. Pada proses belajar setiap guru seyogyanya mengerakkan segenap kemampuan yang ia miliki dan meningkatkan terus pengetahuannya supaya dapat melaksanakan pengajaran dengan baik, sehingga diharapkan siswa memiliki sejumlah pengetahuan, keterampilan, sikap dan prestasi yang memadai.Keberhasilan mengajar menurut Purwanto dipengaruhi oleh faktor...............
Baca makalah ini sebagaimana aslinya di sini.

4/10/2015

Tahapan Perkembangan Anak dan Pemilihan Bacaan sastra

Tahapan Perkembangan Anak dan Pemilihan Bacaan sastra

Tahapan Perkembangan Anak Dan Pemilihan Bacaan Sastra Anak

Oleh:  
Burhan Nurgiyantoro
FBS Universitas Negeri Yogyakarta

Sumber Jurnal: 

Cakrawala Pendidikan, Juni 2005, Th. XXIV, No. 2 halaman 197 – 222. Diterbitkan oleh: Ikatan Sarjana  Pendidikan Indonesia DIY bekerjasama  dengan  LPM Universitas Negeri Yogyakarta

SEBAGIAN ISI MAKALAH:

Pendahuluan:

Sebagaimana halnya manusia dewasa, anak juga memiliki rasa ingin tahu untuk mengenal dunia di sekelilingnya. Pemuasan rasa ingin tahu seorang anak dapat dipenuhi lewat berbagai cara, dan salah satunya adalah lewat bacaan. Bacaan anak itu sendiri amat beragam yang membentang mulai cerita lucu, berbagai cerita tradisional, fiksi, puisi, komik, dan lain-lain sampai dengan bacaan yang berbicara tentang berbagai informasi faktual. Misalnya, bacaan tentang tokoh-tokoh terkenal, olahraga, kehidupan binatang, dan lain-lain yang isinya memang ada dan dapat dibuktikan secara empirik. Hal itu tidak berbeda halnya dengan kebutuhan informasi oleh orang dewasa yang juga dapat diperoleh lewat berbagai bacaan yang berisi tentang berbagai hal. Orang dewasa tinggal memilih bacaan apa dan atau informasi apa yang diinginkannya. Baik orang dewasa maupun anak sama-sama membutuhkan informasi yang memperkaya pengalaman jiwanya, sedang yang membedakan adalah buku apa atau informasi apa yang dibutuhkan itu.

Anak belum dapat memilih bacaan sastra yang baik untuk dirinya sendiri. Anak akan membaca apa saja bacaan yang ditemui tak peduli cocok atau tidak untuknya karena memang belum tahu. Agar anak dapat memperoleh bacaan yang sesuai dengan perkembangan kediriannya, kita harus peduli dengan bacaan sastra yang dikonsumsikan kepadanya. Bacaan sastra yang tepat akan berperan menunjang pertumbuhan dan perkembangan berbagai aspek kedirian anak. Pemilihan bacaan juga haruslah mempertimbangkan faktor budaya karena anak dibesarkan dan belajar tidak dalam kevakuman budaya (Edwards, 2004:89). Budaya yang melingkupi anak adalah berbagai adat kebiasaan, perilaku verbal dan nonverbal, dan lain-lain sebagaimana yang didemonstrasikan secara konkret oleh dan di lingkungan keluarganya. Untuk itu, pemilihan bacaan harus dilakukan dengan hati-hati.

Secara universal perkembangan berbagai aspek kejiwaan anak sesuai dengan tingkat usianya akan melewati tahap-tahap tertentu. Menurut Brady (dalam Saxby & Winch, 1991:26) para peneliti telah mengidentifikasikan umur serta tahapan dan karakteristik perkembangan kejiwaan anak yang meliputi aspek berpikir, bahasa, personalitas, moral, dan pertanyaan-pertanyaan terkait yang dapat membantu dalam seleksi bacaan sastra. Di pihak lain, menurut Huck dkk. (1987:52), di samping aspek-aspek yang dikemukakan Brady, perkembangan itu juga melibatkan aspek fisik dan pertumbuhan konsep cerita.

Brady (dalam Saxby & Winch, 1991:26–27) mengemukakan bahwa terdapat hal-hal tertentu yang yang menjadi dasar pemikiran dalam.................download  selengkapnya makalah ini di sini.